Welcome to Radiks Chemical Enginnering information

Biodesel Berbahan Dasar Minyak Jelantah


Biodesel Berbahan Dasar Minyak Jelantah

Koran Jakarta, Kamis, 25 Februari 2010.

Biodiesel rute nonalkohol dari minyak goreng bekas dapat menyiasati semakin menipisnya ketersediaan bahan bakar berbasis minyak bumi.

Bahan bakar alternatif itu bisa diproduksi dalam skala rumah tangga dan industri. Tingginya kebutuhan bahan bakar sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk semakin mempertipis persediaan minyak bumi di dunia.

Jika minyak bumi terus- menerus dieksplorasi tanpa batas, lama-kelamaan sumber daya alam tersebut akan habis.

Pasalnya, minyak bumi merupakan sumber daya yang tidak bisa diperbarui. Salah satu solusi untuk menjaga ketersediaan minyak bumi ialah dengan mengembangkan energi alternatif.

Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki sumber daya hayati yang bisa dijadikan bahan bakar alternatif. Beberapa sumber daya hayati itu antara lain tanaman jarak dan kelapa sawit yang bisa diolah menjadi biodiesel.

Saat ini, produksi biodiesel pada skala industri dilakukan melalui reaksi transesterifi kasi trigliserida minyak nabati dengan metanol menggunakan katalis alkali.

Namun, penggunaan katalis alkali itu memiliki kelemahan, yakni pemurnian produk dari katalis yang bercampur homogen relatif sulit dilakukan.

Selain itu, katalis bisa ikut bereaksi sehingga memicu reaksi penyabunan. Reaksi sampingan yang tidak diinginkan itu pada akhirnya membebani proses pemurnian produk dan menurunkan yield biodiesel sehingga berdampak pada tingginya biaya produksi.

Untuk mengatasi masalahmasalah tersebut, diperlukan katalis yang tidak bercampur homogen dan mampu mengarahkan reaksi secara spesifik guna menghasilkan produk yang diinginkan tanpa reaksi samping. Belakangan ini, riset sintesis biodiesel menggunakan enzim lipase semakin banyak dilakukan.

Enzim lipase yang bisa menjadi biokatalis dalam sintesis biodiesel tersebut mampu memperbaiki kelemahan katalis alkali, yakni tidak bercampur homogen sehingga pemisahannya lebih mudah.

Selain itu, enzim tersebut juga mampu mengarahkan reaksi secara spesifik tanpa adanya reaksi samping yang tidak diinginkan.

Meski mengandung kelebihan, penggunaan lipase sebagai biokatalis menyisakan satu persoalan. Lingkungan beralkohol seperti metanol menyebabkan lipase terdeaktivasi secara cepat dan stabilitas enzim tersebut dalam mengatalisis reaksi menjadi buruk.

Hal itulah yang mengilhami Heri Hermansyah, peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia, untuk mengembangkan sintesis biodiesel menggunakan rute non-alkohol.

Tujuannya, untuk menjaga aktivitas dan stabilitas enzim tetap tinggi selama reaksi berlangsung. Dalam penelitian itu, Heri menggunakan metil asetat yang menggantikan metanol sebagai penyuplai gugus metil serta memanfaatkan minyak jelantah (minyak goreng bekas) sebagai sumber trigliserida.

Heri menambahkan penggantian alkohol dengan alkil asetat itu diharapkan mampu mencegah deaktivasi dan meningkatkan stabilitas biokatalis selama berlangsungnya proses reaksi.

Adapun penggunaan limbah, yakni minyak jelantah, ditujukan untuk lebih menghemat biaya produksi karena harganya lebih murah daripada minyak kelapa sawit.

Dilihat dari sisi ekonomi, produk sampingan rute nonalkohol, yaitu triacetilglycerol memunyai nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk sampingan rute alkohol berupa glycerol.

Umumnya metode yang digunakan dalam produksi biodiesel ialah reaksi transesterifi kasi atau alkoholisis.

Namun, pada penelitian tersebut Heri mengaplikasikan rute baru untuk menyintesis biodiesel yang disebut dengan rute non-alkohol.

Dalam sintesis biodiesel rute alkohol, senyawa alkohol (metanol) berfungsi untuk menyuplai gugus alkil (metil).

Sementara itu, dalam sintesis biodiesel rute non-alkohol, metanol bisa digantikan dengan metil asetat sebagai penyuplai gugus metal.

Penggantian alkohol dengan alkil asetat itu mampu meningkatkan stabilitas enzim lipase selama proses reaksi. Pada prinsipnya semua minyak yang mengandung trigliserida bisa dijadikan bahan baku biodiesel.

Pertimbangan lain Heri menggunakan minyak goreng bekas sebagai bahan dasar biodiesel ialah agar limbah tersebut memiliki nilai tambah.

“Penggunaan minyak jelantah tersebut juga dapat mereduksi pencemaran lingkungan akibat limbah minyak goreng yang berasal dari industri dan rumah tangga,” kata Heri.

Pembuatan biodiesel rute non-alkohol dengan bahan baku minyak goreng bekas itu dilakukan dengan reaksi interesterfikasi menggunakan biokatalis terimmobilisasi.

Reaksi itu bertujuan mengubah senyawa trigliserida dalam minyak goreng bekas menjadi biodiesel sebagai produk utama dan triasetilgliserol sebagai produk sampingnya.

Sesuai Harapan Dengan menggunakan katalis berupa enzim, reaksi dapat diarahkan menuju produk yang diinginkan sehingga minyak goreng bekas dapat terkonversi menjadi biodiesel tanpa reaksi samping yang menyulitkan pemurnian produk.

Untuk mencapai tujuan itu, teknologi yang digunakan cukup sederhana, yakni rekayasa reaksi enzimatis yang diimobilisasi dalam reaktor (reactor fixed bed). Reaksi menggunakan enzim memang terbilang lebih efektif, namun hal itu tidak berarti bebas dari kendala sama sekali. Kendala utama dalam proses enzimatis ialah harga enzim yang mahal.

Namun, Heri menyiasati hal tersebut dengan metode imobilisasi enzim yang bisa meregenerasi enzim berulang kali.

Proses reaksi pengolahan biodiesel minyak goreng bekas tersebut dilangsungkan di reaktor PBR (Packed Bed Reactor).

Wadah yang disebut umpan itu berisi campuran minyak goreng bekas dan metil asetat. Kedua bahan itu akan dipompa menuju dasar kolom reaktor dengan laju konstan. Temperatur reaksi dijaga tetap berada pada kisaran 37 hingga 40 derajat celcius.

Campuran berupa minyak goreng bekas dan metil asetat akan direaksikan dengan enzim lipase yang telah diimobilisasi menghasilkan biodiesel.

Air yang digunakan pada jacket bath akan disirkulasi melalui thermal bath untuk menjaga stabilitas suhu kolom reaktor.

Proses pembuatan biodiesel dari minyak goreng bekas terbagi menjadi beberapa tahap, yakni persiapan, reaksi, dan pemurnian hasil. Pada tahap persiapan, minyak goreng bekas dimurnikan dari pengotornya berupa asam lemak bebas.

“Kehadiran asam lemak bebas itu dapat menghambat kerja enzim sebagai biokatalis,” terang Heri yang meraih gelar doktor bidang teknik kimia dari Tohoku University, Jepang, itu. Tahapan reaksi terjadi secara berkelanjutan dalam reaktor PBR.

Tahapan selanjutnya adalah pemurnian yang bertujuan untuk memisahkan biodiesel dari produk sampingan.

Menurut Heri, biodiesel rute non-alkohol dari minyak goreng bekas dapat menyiasati semakin menipisnya ketersediaan bahan bakar mesin diesel berbasis minyak bumi.

Dia berharap biodiesel dari minyak goreng bekas itu dapat diproduksi dalam skala industri dan dimanfaatkan tidak saja oleh para pengendara kendaraan bermotor tetapi juga industri.

Memang, hingga saat ini, uji penggunaan bahan bakar tersebut untuk kendaraan bermotor belum dilakukan.

“Biodiesel minyak jelantah lebih kompetitif di level industri dan layak untuk dikomersialkan sebagai sumber energi di masa depan,” ujar Heri.
vic/L-2

sumber :http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=46052

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s