Welcome to Radiks Chemical Enginnering information

Ir Arifin Tasrif, Direktur Utama PT Petrokimia Gresik


Ir Arifin Tasrif, Direktur Utama PT Petrokimia Gresik

Tanpa Rehabilitasi, Industri Pupuk Boros Energi

Industri pupuk tak sedikit menyerap penggunaan energi. Bahan baku energi seperti gas, tidak hanya digunakan untuk menjalankan operasional pabrik, tapi gas bahkan digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat pupuk. Bagaimana industri pupuk memenuhi kebutuhan energinya di tengah terbatasnya bahan baku gas di dalam negeri?

Berikut perbincangan Direktur Utama PT Petrokimia Gresik, Arifin Tasrif, dengan wartawan Republika, Firkah Fansuri dan Teguh Firmansyah serta pewarta foto, Amin Madani. Berikut petikan perbincangan kami.
Bagaimana perkembangan industri pupuk saat Ini?

Sekarang ini industri pupuk yang gene-rasinya tua membuat konsumsi energi yang digunakan cukup tinggi. Sehingga kalau harga gas semakin mahal, maka biaya produksi kian besar. Ironisnya, (harga) gas cenderung naik terus. Hal itu didorong oleh permintaan konsumsi energi industri yang cukup besar. Dengan industri tumbuh maka permintaan semakin besar dan harga naik.

Karena itu, akan terjadi tarik-menarik antara gas untuk energi kebutuhan masyarakat dan yang dipakai untuk pupuk. Karena gas merupakan salah satu dasar untuk membuat pupuk. Saat harga minyak tembus hingga 100 dolar AS bisa menjadi pelajaran. Banyak komoditas pangan yang digunakan untuk biofuel, sehingga mengerek harga pangan. Di sisi lain, tanpa ada pupuk maka produksi pangan juga tidak baik. Bagaimana cara mengatasi kebutuhan energi yang cukup besar Itu?

Seperti yang saya katakan, ke depan akan terjadi tarik-menarik. Dengan demand tinggi, maka harga naik. Karena itu kita harus berpikir bagaimana supaya konsumsi energi yang digunakan untuk industri pupuk bisa efisien. Salah satunya saat ini yakni dengan membenahi industri pupuk. Pabrik-pabrik yang sudah tua harus segera direhabilitasi. Rehabilitasi yakni dengan mengganti peralatan yang sudah usang dengan teknologi yang jauh lebih baru sehingga bisa hemat energi. Selain juga mengonversi dengan bahan energi yang lebih murah dan cukup berlimpah, seperti batu bara. Karena kita bisa manfaatkan untuk processing-nya.

Tentang ketertinggalan tadi, bisa Anda rinci lebih lanjut?

Bagian processing banyak yang sudah ketinggalan. Kita harus ganti dengan kapasitas produksi lebih besar sehingga bisa hemat. Karena kalau semakin besar kapasitasnya, maka akan semakin murah biaya produksinya. Pabrik yang sebelumnya berproduksi 100 persen, dengan modifikasi produksinya bisa meningkat menjadi 120 persen.

Bagaimana perbandingan biaya Jika membangun pabrik baru?

Membangun pabrik baru itu mahal. Sementara untuk rehabilitasi peralatan, biayanya akan lebih murah. Karena membutuhkan waktu yang lebih cepat. Beberapa komponennya bisa diganti pada saat pemrograman.

Seberapa sulit membangun pabrik baru?

Jika kita ingin pabrik baru, maka harus dipilih lokasi yang tepat. Sebab harga gas 5 dolar AS di luar Jawa dan di Jawa kan lebih bagus di Jawa. Karena konsumsi pupuk banyak di pulau Jawa sehingga kalau pabrik pupuk berlokasi di Jawa maka biaya untuk transportasinya lebih murah dibandingkan di luar Jawa. Apalagi, prospek gas di Jawa saat ini juga cukup lumayan. Ditambah lagi dengan pipanisasi Sumatra-Jawa atau Kaliman-tan-Jawa. Kemudian ada produksi Blok Cepu.

Investasi untuk pabrik pupuk satu juta ton urea sekitar 800 juta dolar AS. Bank siap mengucurkan kredit jika proyek itu memang secara ekonomi bagus. Kemudian juga ada jaminan dari investor dan dari pemerintah. Itu yang menjadi tolok ukur bank.

Apakah kebijakan soal gas di dalam negeri saat ini sudah tepat?

Berbicara efesiensi energi sekarang sudah ada program pemerintah untuk konversi minyak ke batu bara. Seperti pembangkit listrik 10 ribu megawatt. Tapi kalau nanti ada dari gas ke batu bara, akan lebih bagus. Karena ke depan gas akan lebih terjamin. Dari sisi share-nya juga, gas harus lebih difokuskan ke dalam negeri terlebih dahulu.

Kebijakan untuk memenuhi kebutuhan gas dalam negeri, perlu ditinjau ulang. Karena kebutuhan pupuk ke depan akan meningkat seiring dengan kebutuhan pangan yang tinggi.Khusus untuk bahan baku pupuk, sebetulnya ada energi alternatif yaitu gas metana batu bara (CBM). Namun, perjalanannya masih panjang. Untuk menariknya ke atas, CBM membutuhkan biaya yang cukup mahal. Tapi untuk jangka panjang kita perlu ini (CBM) sehingga kita tidak hanya mengandalkan gas sebagai bahan baku pupuk . Suatu saat akan ada titik temu antara permintaannya dengan kebutuhan.

Unsur dalam pupuk antara lain nitrogen (N), fosfat (P), kalium (K), dan sulfur (S). Nitrogen itu bisa dari gas alam. Gas alam asalnya merupakan sintesis antara gas karbon monoksida (CO) dan hidrogen (H). Selain gas, sebetulnya bisa memakai minyak. Tapi untuk memecah uraian kimiawinya, jauh lebih mahal. Tidak hanya itu, sintesis gas juga bisa dihasilkan dengan memakai batu bara. Indonesia belum punya fosfat dan kalium. Sulfur kita punya, tapi cuma sedikit.

CBM sudah digunakan di Cina. Di sana kan populasi masyarakat terbesar. Namun, mereka punya stok batu bara yang cukup banyak, letaknya di pedalaman (Cina). Ditinjau dari unsur-unsur pada pupuk, Cina memiliki semuanya baik dari gas, fosfat, sulfur, dan kalium.

Bagaimana Indonesia memenuhi kebutuhan bahan dasar

pupuk selain gas dan sulfur?

Kita bisa mengekspor dari sejumlah negara. Cara yang terbaik adalah melakukan kerja sama dengan mereka. Yordania adalah negara yang tidak besar populasinya, tapi punya sumber P dan K, namun tidak memiliki S. Sedangkan Mesir punya semuanya tapi jumlahnya tidak memadai. Dari sisi kualitasnya juga tidak memenuhi standar.

Negara lain seperti Maroko juga memiliki bahan baku pupuk yang cukup besar. Tapi penyalurannya butuh biaya tidak sedikit karena harus lewat Terusan Suez. Mereka pun orientasinya ke belahan utara seperti Eropa dan Amerika. Begitu pula Tunisia dan Aljazair, keduanya melewati Terusan Suez. Dari semua negara ini kemudian kita pilih Yordania untuk kerja samanya karena lebih ekonomis.

Kita lakukan joint venture dengan Yordania. Pabriknya dibangun di Gresik, mereka (Yordania) berinvestasi di sana. Sehingga mereka juga mempunyai kepentingan untuk menjaga pasokan bahan baku. Proyek ini akan menguntungkan kedua belah pihak.

DI Indonesia, Indusri pupuk dilakukan oleh BUMN. Bagaimana dengan negara lain?

Pabrik pupuk urea memang seluruhnya dikembangkan oleh BUMN. Kecuali untuk industri pupuk NPK, memang banyak yang diproduksi swasta yang skalanya kecil. Mereka punya market-nya sendiri.

Tapi untuk pabrik urea yang besar belum. Karena mereka harus berhadapan dengan industri pupuk BUMN yang sudah telanjur besar. Bagaimana mereka mau, kalau butuh dana (produksi) besar tapi margin (keuntungan) kecil. Karena itu, mengharapkan investasi swasta sepertinya jauh lebih berat. Sementara kalau di luar negeri, cukup banyak swasta yang berperan. Tapi perlu diperhatikan, di negara lain umumnya yang disubsidi itu petani bukan pupuknya.

Bagaimana pendapat Anda soal kebijakan subsidi pupuk petani?

Harus diakui pupuk murah ini salah satunya tidak terlepas dari kebijakan subsidi. Ini dapat memotivasi petani untuk meningkatkan produksi. Seperti pada saat krisis, ini sangat membantu. Kita baru bisa lepas dari subsidi jika telah mampu berswasembada. Kenapa pupuk bersubsidi sangat bermanfaat, karena jika pemerintah tidak melakukan subsidi harga pupuk bisa melambung cukup besar. Saat harga minyak dunia mencapai 140 dolar AS per kilogram dua tahun lalu, harga pupuk urea saat itu di pasar dunia sekitar Rp 8.000 per kilogram. Tapi, kita menjual pupuk urea ke petani hanya Rp 1.200 per kilogram. Itu karena adanya subsidi harga pupuk.

Bagaimana perkembangan pupuk organik?

Untuk pengembangan pupuk organik, Petrogres mempunyai produk pupuk organik yang namanya petroganik. Pupuk petroganik ini akan membuat tanaman lebih kuat terhadap hama. Di samping juga akan menghemat cost dengan penggunaan pestisida yang jauh lebih sedikit.

Tidak hanya itu, dengan pupuk organik tersebut dari perhitungan kita setidaknya itu dapat mengurangi

konsumsi pupuk anorganik 10 persen. Sebagai misal untuk lahan 500 hektare, kita butuh 500 kilogram pupuk anorganik. Tapi jika kita tambahkan pupuk organik dengan jumlah sekitar 500 kilogram juga, maka penggunaan pupuk anorganiknya bisa berkurang menjadi hanya 400 sampai 450 kilogram saja. Dengan penghematan 50 kilogram saja, jika ada 11 juta hektare lahan tanam, maka bisa mengurangi penggunaan pupuk organik mencapai 550 ribu ton. Angka ini cukup besar dan bisa menghemat anggaran pemerintah untuk melakukan subsidi. Apalagi, produksi padi pun meningkat.

Sepertinya ada kekeliruan persepsi soal penggunaan pupuk organik?

Memang ada kesalahpahaman, bahwa menggunakan pupuk organik bukan berarti tidak menggunakan anorganik. Pupuk oganik itu unsurnya membenahi tanah. Kalau menggunakan itu maka tanah akan jauh lebih gembur Dengan demikian penyerapan akan mudah. Tanaman dapat menangkap nutrien yang lebih besar. Sementara dengan anorganik itu bisa mempercepat produksi.

Bagaimana prospek produksi pupuk organik?

Cukup baik. Hanya saja produksi pupuk organik tentunya harus sesuai dengan standar mutu. Pada 2010 ini kita berharap ada 300 pabrik petroganik. Dengan kapasitas setiap pabriknya 10 ribu ton per tahun, berarti kita bisa produksi 3 juta ton.

Saat ini ada kurang lebih 11 juta hektare lahan. Efektifnya, penggunaan 6 sampai 7 juta hektare. Kalau pemakaian 0,5 ton per hektare, maka setidaknya butuh 3,5 juta ton pupuk organik Berarti dengah hitungan itu masih defisit 0,5 juta ton.

Penggunaan pupuk organik dan juga anorganik harus dilihat adalah efeknya. Karena dengan menggunakan organik berarti kita menghemat untuk penggunaan pestisida, dan juga pupuk anorganiknya.

Kemudian dengan membangun pabrik juga akan menciptakan lapangan pekerjaan yang baru. Bayangkan jika satu pabrik bisa menciptakan lapangan pekerjaan 30 orang. Pola pembangunannya dengan konsep waralaba. Kita akan libatkan investor UKM. Dengan 3 juta ton itu kemudian dijual seharga Rp 1.500 per kilogram. Ini akan menguntungkan bagi mereka.

Terkait aktivitas pribadi, apa yang Anda lakukan saat senggang?

Biasanya setiap akhir pekan saya suka berolahraga. Kadang-kadang berenang. Kalau di Gresik biasanya sepekan dua kali saya suka berenang, sebelum bekerja. Tidak hanya itu untuk meluangkan waktu saya juga hobi nyanyi dan juga nonton film.

Cita-cita masa kecil? Waktu dulu orang tua saya memang berkebun. Tapi waktu itu tidak ada cita-cita untuk menjadi seperti saat ini. Saya waktu itu ingin jadi pilot.

One response

  1. edi kurniawan

    pak. sy ma tanya brp harga carbon monoksida/ton untuk tugas akhir pembuatan asam propionate yang raw materianya CO

    11 Desember 2010 pukul 11:23

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s