Welcome to Radiks Chemical Enginnering information

Arsip Penulis

CRYSTALLIZER PART II


Jenis Crystallizer Tanpa Circulating Magma

  1. Jacketed Pipe Scraped Crystallizer

Crystallizer jenis ini berbentuk balok yang panjang yang didalamnya terdapat piringan yang berlekuk-lekuk yang dapat berputar karena adanya poros atau pulley pada ujungnya.

jacket pipe

 Gambar 1. Jacketed Pipe Scraped Crystallizer

Umumnya dibuat dari dengan pipa dalam 6 – 12 inchi sebagai diameter dan panjangnya sekitar 20 – 40 feet, yang disusun  seri dalam sambungan dengan 3 buah atau lebih. Piringan yang berlekuk tersebut dinamakan dengan Scraper Blades yang berputar dengan kecepatan 15 sampai 30 rpm. Suhu operasi yang dapat dijalankan sekitar -75 sampai 1000F. Dan dapat juga digunakan pada cairan yang memiliki viskositas lebih dari 10000 cp. Prinsip kerjanya ialah plug flow, dimana cairan induk masuk dari bagian atas samping kanan, lama kelamaan akan membentuk kristal didalam pipa tersebut dan kristal akan mengendap dibawah dan menempel didinding pipa, yang nantinya scaper blades akan mengambil kristal-kristal tersebut. Ukuran kristal yang dihasilkan akan seragam, umumnya besar-besar. Namun, pertumbuhan untuk kristal sangat kecil, hal ini disebabkan jarak antar sambungan seri yang terdapat scraper blades mungkin terlalu jauh. Kapasitas yang ditentukan oleh koefisien perpindahan panas sebesar 10 -25 Btu/hr ft2 0F umunya dapat tercapai. Namun untuk mendapatkan nilai koefisien perpindahan panas yang lebih tinggi, kita dapat mengubah bentuk dari scraper blades maupun pergerakannya.

      2. Scraped Surface Crystallizer

Contoh crystallizer jenis ini ialah tipe Swenson-Walker cystallizer. Berupa saluran pipa yang dilapisi dengan jacket pendingin. Jenis ini berupa saluran denagn ukuran 24 inchi untuk lebar, panjang 10 feet, tinggi 26 inchi. Terdiri dari 4 atau lebih gabungan crystallizer. Seperti jenis crystallizer yang sebelumnya, bahwa kapasitasnya sangat dipengaruhi oleh koefisien perpindahan panas sekitar 10 -25 Btu/hr ft2 0F dengan luas penampang yang sediakan 3 ft2/ft panjangnya. Untuk 40 ft panjangnya dapat menghasilkan 15 ton/hari trisodium pospat dan untuk 50 ft panjangnya dapat menghasilkan 8 ton/hari garam Glaubers.

scraped sur

Gambar 2. Scraped Surface Crystallizer

Kristal yang terbentuk akan menempel didinding pipa tersebut akan diambil dengan scraper blades lalu akan dikeluarkan pada salah satu ujungnya. Dimana scraper blades digerakkan oleh pulley pada salah satu ujungnya.

 

3.   Batch Stirred Tank With Internal Cooling Coil

Crystallizer jenis ini dapat divariasikan terutama pada bagian badan crystallizer yang dapat digunakan pengaduk atau tanpa pengaduk. Umumnya bila dilengkapi dengan pengaduk waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kristal akan lebih cepat bila dibandingkan dengan tanpa pengaduk. Koefisien perpidaan panas yang terjadi sebesar 50 -200 Btu/hr ft2 0F, namun perbedaan temperature yang diperbolehkan untuk mendapatkan keadaan lewat jenuh ialah sebesar 5 – 100F.

batch stirred

Gambar 3. Batch Stirred Crystallizer Tank with Internal Cooling

Jenis crystallizer ini termasuk jenis yang batch, artinya tidak ada alitan keluar setiap waktunya. Tangki crystallizer diisi lalu diambil hasilnya pada waktu tertentu. Jenis ini dapat digunakan untuk proses yang continous dengan dilengkapi pengaduk. Umumnya jenis ini memiliki tutup yang berbentuk torispherical dimana umpan atau cairan induk masuk dari atas dan masuk kedalam tangki untuk didinginkan. Medium pendingin digunakan koil yang berada didalam tangki crystallizer tersebut, sehingga efisiensi perpindahan panas cukup tinggi. Karena kontak antar cairan dengan medium pendingin cukup luas. Disamping itu, bila digunakan pengaduk pembentuk kristal terutama pada secondary nucleation akan lebih besar bila dibandingkan dengan tanpa pengaduk.

 

4.  Direct Contact Refrigeration Crystallizer

Seperti pada beberapa aplikasi pendinginan air laut menjadi es pada suhu yang rendah dengan menggunakan refrigerant merupakan solusi yang ekonomis. Umunya bila kita ingin menciptakan permukaan yang dingin atau cukup dingin pada sebuah HE agak sulit karena perbedaan temperaturnya harus sangat kecil (dibawah 30F), sehingga HE didesain dengan sebaik-baiknya terutama luas permukaannya yang dapat memindahkan sejumlah panas yang kita inginkan. Apalagi bila cairannya cukup kental, agak sulit untuk mencipatkan perbedaan suhu yang sangat kecil tersebut. Untuk mengatasinya dapat digunakan bahan pendingin yaitu zat  refrigerant.

direct contact

 Gambar 4. Direct Contact Refrigeration Crystallizer

Prinsip kerja dari crystallizer jenis ini ialah dengan adanya pendinginan dari refrigerant yang digunakan. Umpan berupa cairan induk dimasukkan kebadan crystallizer dengan suhu yang lebih tinggi dari suhu yang refrigerant (suhu cair refrigerant minus). Karena titik didih dari refrigerant sangat kecil atau jauh dibawah suhu cairan induk, maka ada perpindahan panas dari cairan induk menuju refrigerant, dimana akan mengakibatkan suhu refrigerant akan naik dan menguap untuk mendinginkan cairan induk, sampai cairan induk berada pada keadaan lewat jenuhnya. Penggunaan refrigerant ini medium pendingin sangatlah efektif, karena apabila digunakan HE dengan media refrigerant sebagai pendingin, perbedaan suhu yang dihasilkan akan sangat kecil, ditambah dengan resiko-resiko lain dari sifat refrigerant itu sendiri. Didalam badan crystallizer antara refrigerant dan cairan induk akan berkontak, namun sifat dari refrigerant yang immiscible, tidak akan membuat mereka bercampur. Contoh dari jenis crystallizer ini pada proses pembuatan kristal Calcium Chloride dengan refrigerant freon atau propane dan pembuatan kristal p-xylene dengan refrigerant propane.

 

5. Twinned Crystallizer

Jenis crystallizer ini sebenarnya berbentuk tangki yang didalamnya terdapat dua pengaduk yang dipisahkan oleh sekat atau baffle. Pada tiap pengaduk terdapat medium pemanas dimana yang salah satunya berkerja pada suhu saturasi, sedangkan satunya bekerja pada suhu supersaturasi atau lewat jenuh. Namun bila suhu operasi pada crystallizer ini sama pada kedua medium pemanas, umumnya akan didapatkan keseragaan ukuran. Tetapi waktu yang diperlukan akan lebih lama, walaupun terdapat dua pengaduk dalam satu tangki tersebut.

twinned c

Gambar 5. Twinned Crystallizer

Sesuai dengan namanya bahwa seolah-olah terdapat dua macam jenis crystallizer yang beroperasi pada suhu yang berbeda namun dalam satu tangki crystallizer (gambar 5). Terlihat bahwa umpan masuk dari sebelah kanan atas, karena adanya pergerakan pengaduk, cairan induk bersikulasi, disamping bersikulasi karena adanya sekat antara kedua pengaduk tersebut. Bila kita melihat jenis alirannya, sudah pasti cukup turbulen, sebab cairan bersikulasi cukup panjang didalam crystallizer tersebut. Semakin cepat gerakan pengaduk dan semakin tinggi perbedaan suhu yang ditukarkan, maka semakin cepat dan baik kristal yang didapatkan. Produk berupa kristal dapat diambil pada bagian bawah crystallizer, karena kristal akan jatuh atau mengendap dibawah adanya gaya gravitasi dan perbedaan massa jenis.

 

6. APV-Kestner Long Tube Vertical Evaporative Crystallizer

apv c

 Gambar 6. APV-Kestner Long Tube Vertical Evaporative Crystallizer

Umumnya crystallizer jenis ini digunakan untuk mendapatkan butiran-butiran atau kristal yang cukup kecil, biasanya kurang dari 0.5 mm. Prinsip kerjanya hampir sama dengan crystallizer yang lain, umpan masuk dengan forced flow dengan pompa lalu melewati sebuah evaporator yang didalamnya terdapat HE. Pada saat cairan induk berada pada keadaan supersaturasi atau lewat jenuh, maka akan terbentuk kristal-kristal halus, kristal tersebut ditampung pada salt box, cairan induk yang belum lewat jenuh dikeluarkan, sedangkan yang berupa kristal dikelurkan produk. Contohnya pada pembuatan kristal NaCl (garam), Na2SO4, Citric Acid.

 

 

7. Escher-Wyss Crystallizer

escher

  Gambar 7. Escher-Wyss Crystallizer

Crystallizer jenis ini menggunakan pengaduk yang piringannya berganda seperti paddle, turbin six blade atau yang lainnya. Karena pergerakan pengaduk yang cukup untuk menimbulkan keturbulensian antara aliran didalam draft tube dan annulus. Aliran akan mengalir kebawah melalui annulus, mengalir keatas melalui draft tube. Produk yang didapatkan berupa suspensi-suspensi yang berbentuk besar.


Chem employ Desember 2012


Chemploy
VIEW JOBSPOST REUMESPOST JOBSVIEW RESUMESJOB ALERTSSubscribeEmail to Friend
Featured Article:

Global CPRI flat in October; U.S. CPRI up slightly, ACC says

The Global Chemical Production Regional Index (Global CPRI) was flat in October, following 10 months of gains, according to data from the American Chemistry Council (ACC; Washington, D.C.; www.americanchemistry.com). READ MORE »

Fresh Jobs in the Chemical Process Industries

More Jobs | Post a Job

Search Resumes | Submit your Resume

 

Employers/Recruiters: Reach highly qualified candidates by posting your opening on the Chemploy Job Board.

For more information about our recruitment products please contact Diane Hammes at dhammes@che.com or 713-444-9939.

Job Seekers: Access the newest and freshest jobs available to chemical process industries professionals.

Related Offerings: Need a network of experts for your ChE dilemmas? Follow Chemical Engineering magazine on Twitterand LinkedIn .


DESIGN OF LONG TUBE VERTICAL EVAPORATOR BY RADIKS


baffle cut 25%

BAFFLE CUT 25%

baffle dimension

DIMENSION OF BAFFLE 75%

radiks's design of evaporator

LONG TUBE VERTICAL EVAPORATOR TAMPAK LUAR

radiks's design of evaporator detail

DETAIL OF LONG TUBE VERTICAL EVAPOARTOR


ADSORBER PART I


Untuk adsorbers yang umumnya digunakan pada penyerapan berupa campuran liquid atau gas. Dan juga adsorbent yang digunakan berbentuk butiran-butiran halus yang berpori, hal ini dimaksudkan untuk dapat memperluas biang kontak penyerapan adsorbant oleh adsorbent. Umumnya diindustri adsorbent nya berupa campuran, oeh karena itu tidak mudah dalam pengoperasian adsorber. Disamping itu pengelompokkan adsorbers didasarkan pada apakah terdapat recycle dari adsorbant atau tidak? Pada adsorber diperhitungan letak adsorbent nya, kecepatan masuk rekatan, kedaaan dari adsorbent.

VII.A. Tanpa Recycle Adsorbant

Adsorber jenis ini dapat digunakan pada keadaan yang batch dan continous. Diantaranya ;

  1. Fixed atau Packed Beds Vertical Adsorber

Adsorber jenis ini merupakan adsorber yang terdiri dari kolom penyerapan yang berada ditengah tangki adsorber. Dimana adsorbent dileakkan ditengah kolom, lalu jatuh secara gravitasi. Sedangkan dari batas pula masuk reaktan secara paralell (reaktan umumnya gas).

BEd vertica

         Gambar 1. Beds Vertical Adsorber

Dari gambar 1 diatas terlihat bahwa pada bagian bawah terdapat fluida untuk meneregerasi adsorbent yang digunakan. Hal ini dimaksudkan karena pada adsorber jenis ini semakin turun kebawah adsorbent akan menjadi jenuh, dimana penambahan reaktan untuk penyerapan lebih lanjut tidak akan sempurna. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan penyerapan adsorbent, digunakan fluida untuk dapat meneregerasi adsorbent tersebut. Disebut beds karena terdapat papan untuk meletakkan granular adsorbent, karena pori-pori adsorbent berbeda-beda, maka untuk dapat terjadi adsorpsi yang baik, maka reaktan yang masuk harus benar-benar menempati pori yang sesuai dengan ukuran molekul dari rekatan. Beds granular adsorbents terletak diatas dan dibawah kolom adsorber, dibawah digunakan untuk membuang adsorbent jika adsorbent tersebut sudah tidak bisa diregenerasi lagi.

flat sGambar 2. Flat Screen Support (Atas Kolom Adsorber)

conical type

Gambar 3. Conical Type of Support Removal Adsorbent

Adsorber jenis ini umumnya memiliki tinggi sekitar 45 feet dan diameter sekitar 8-10 feet. Namun, kekurangan dari adsorber ini ialah adanya penurunan tekanan yang cukup tinggi atau pressure drop cukup tinggi. Hal ini tidak boleh terjadi karena dapat mengakibatkan reaktan dan fluida regenerasi tidak berkontak baik untuk proses adsorpsi ini.

  1. Fixed atau Packed Beds Horizontal Adsorber

Adsorber jenis ini tidak jauh berbeda dengan adsorber yang sebelumnya, hanya saja posisinya dalam horisontal, sehingga pressure drop dapat diminimumkan, karena umumnya bekerja pada tekanan atmosfer. Fluida regenerasi yang digunakan ialah steam. Reaktan berupa campuran uap-gas yang masuk dari ujung sisi kiri dikontakkan dengan beds adsorbent. Produk keluar pada ujung kanan pada kolom adsorber.

beds hori

    Gambar 4.Beds Horizontal Adsorber

Terlihat bahwa steam masuk pada bagian kiri kolom adsorber, melewati screen dan adsorbent untuk mengeringkan, lalu keluar bersama dengan gas atau uap yang tidak terserap atau tidak teradsorpsi. Dibagian atas kolom adsorber terdapat manhole atau lubang untuk operator adsorber masuk, umumnya operator masuk untuk memeriksa keadaan adsorber, mengangkat adsorbent karena sudah tidak dapat diregenerasi lagi, dan sebagainya. Untuk beds adorbent nya digunakan flat screen support.

Untuk jenis adsorber baik vertical adsorber maupun horizontal adsorber karena menggunakan sistem packed atau fix bed maka panjang dari bed yang berisi adsorbent akan sangat mempengaruhi proses adsorpsi, diamping itu pula kosentrasi reaktan mula-mula dan kapasitas dari adsorbent untuk menyerap adsorbant juga berpengaruh. Hubungan hal-hal tersebut diatas dapat digambarkan sebagai berikut ;

 

  1. Rotary Bed Adsorber

Beranjak dari kekurangan pada kolom adsorber dimana adsorbent bergerak secara searah dengan reaktan, yang akan mengakibatkan kesulitan dalam mengontrol kecepatan aliran dari jatuhnya adsorbent walaupun terdapat screen support adsorbent dan juga kecepatan masuk reaktan. Karena dua hal tersebut akan sangat mempengaruhi proses adsorpsi yang akan terjadi. Rotary bed adsorber merupakan solusinya, dimana kolom adsorber yang berbentuk bola akan berputar bersamaan dengan adsorbent.

rotary bed

Gambar 5. Rotary Bed Adsorber

Dari gambar terlihat bahwa fluida reaktan yang masuk berupa udara, adsorbent yang digunakan ialah karbon aktif. Dimana udara berputar karena adanya gaya centrifugal dari perputaran motor. Produk hail adsorpsi akan keluar berupa gas dan uap yang nantinya akan dikondensasikan sehingga diperoleh produk berupa cairan. Untuk regenerasi digunakan fluida steam yang masuk pada poros perputaran rotary bed. Sehingga dapat dikatakan bahwa adsorbent, adsorbant, dan steam berkontak pada satu tempat.

 


CRYSTALLIZER PART I


Kristalisasi

Kristalisasi merupakan proses pemisahan padat-cair dimana terjadi perpindahan massa dari solut (zat yang terlarut) menuju padatan dari fasa yang homogen atau dengan kata lain peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat dalam suatu fasa homogen.

Dalam kristalisasi dari larutan sebagaimana yang dilakukan oleh industri, campuran dua fasa cairan induk (mother liquor) dan kristal dari segala ukuran yang mengisi crystallizer, akan dikeluarkan sebagai hasil atau disebut dengan magma.

Tujuan dari kristalisasi yang utama ialah mendapatkan perolehan atau hasil yang memuaskan terutama kemurnian yang tinggi, oleh karena terdapat pertimbangan ;

1. Jika kristal yang dihasilkan akan diproses lebih lanjut, maka

ukuran yang wajar dan cukup seragam diperlukan untuk

kemudahan filtrasi, pencucian, pelaksanaan reaksi dengan bahan

kimia lain, pengangkutan, serta penyimpanan kristal

2. Jika kristal tersebut akn dipasarkan secara langsung, untuk dapat

diterima oleh konsumen, maka kristal tersebut harus kuat, tidak

mengumpal, ukurannya seragam, dan tidak melekat dalam

kemasan

Untuk mencapai tersebut, maka distribusi ukuran kristal (crystal size distiribusion) atau CSD, harus dikendalikan dengan benar dan itulah yang menjadi tujuan utama dalam perancangan dan operasi pada crystallizer.

Kristal yang baik, terbentuk dengan baik, umumnya hampir murni, namun masih mengandung cairan induk bila dikeluarkan dari magma akhir dan jika hasil tersebut masih mengandung agregat kristal, massa zat padat itu mungkin mengandung cairan induk bersama kristal.

 

Jenis-Jenis Crystallizer

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa untuk mencapai tujuan dari kristalisasi tersebut diperlukan operasi crystallizer yang baik dan teknik perancangan crystallizer yang benar. Oleh karena itu, pada industri banyak digunakan bermacam-macam crystallizer untuk mencapai tujuan akhir, umumnya memiliki ukuran padatan yang seragam. Jenis-jenis crystallizer didasarkan pada prosesnya, apakah umpan segar bercampur dengan hasil proses kristalisasi (umpan bercampur dengan magma) atau tidak? Perbedaan operasi yang dilakukan pada crystallizer akan menghasilkan produk yang berbeda-beda.

 

A. Jenis Crystallizer dengan Circulating Magma

  1. Forced Circulating Liquid Evaporator Cyrstallizer

Cyrstallizer jenis ini menggabungkan proses antara proses pendinginan dan penguapan (evaporasi). Hal tersebut dimaksudkan untuk mencapai keadaan yang supersaturasi (supersaturated) atau keadaan dimana larutan lewat jenuh.

forced cir

                Gambar 1. Forced Circulating Liquid Evaporator

Pada gambar diatas terlihat bahwa umpan berupa larutan induk terlebih dahulu dilewatkan melalui sebuah Heat Exchangers untuk dipanaskan. Heat exchangers tersebut berada didalam evaporator. Didalam evaporator terjadi flash evaporation yaitu, terjadi pengurangan jumlah atau kandungan pelarut dan terjadi peningkatan kosentrasi zat terlarut. Dimana pada saat itu juga, keadaan zat terlarut sudah lewat jenuh atau supersaturasi. Larutan yang sudah berada pada keadaan lewat jenuh tersebut dialirkan menuju badan crystallizer untuk diperoleh padatan berupa kristal. Dimana pada badan crystallizer terdapat mekanisme kristalisasi yaitu nukleasi dan pertumbuhan kristal. Produk kristal dapat diambil sebagai hasil pada bagian bawah crystallizer, namun tidak semua proses berjalan sempurna atau dengan kata lain tidak semua cairan induk berubah menjadi padatan kristal. Karena itu ada proses pengembalian kembali hasil pipa sirkulasi (circulating pipe) atau  proses recycle hasil kristaliasi.

Terlihat bahwa umpan dan campuran umpan dengan hasil yang masih belum padatan, dialirkan dengan paksa atau forced circulation, serta adanya Heat Exchangers dapat membuat kenaikan titik didih yang sempurna. Kenaikan titik didih pada Heat Exchangers pada Evaporator untuk dapat membuat larutan menjadi lewat jenuh berkisar antara 3 – 100F untuk sekali lewat. Bila kenaikan titid didih yang diharapkan untuk mendapatkan kristal yang baik tidak sesuai, maka dapat digunakan beberapa evaporator untuk menaikan titik didih, dimana kosentrasi zat terlarut akan meningkat juga. Karena mengalir secara paksa menggunakan pompa, maka kecepatan aliran cukup tinggi, sehingga akan mengakibatkan ketinggian  permukaan larutan pada crystallizer tidak tetap atau naik turun. Umumnya crystallizer jenis ini dibangun dengan diameter 2 feet atau pada skala industri sekitar 4 feet atau lebih

  1. Draft Tube Baffle (DTB) Cyrstallizer

Pada crystallizer jenis ini, terdapat keunggulan dimana pada badan crytallizer terdapat pola atau sirkulasi untuk mekanisme kristalisasi. Diantaranya ialah draft tube, draft tube akan memisahkan antara cairan induk dengan kristal yang akan terbentuk, yang dilengakapi dengan pengaduk yang bergerak lambat. Pengaduk tersebut ada dimaksudkan untuk membuat cairan induk dapat bernukleasi dengan cepat, karena dengan pengadukan reaksi akan berjalan cepat.

draft tube

Terlihat pada gambar diatas bahwa umpan masuk melalui Heat Exchangers untuk proses pemanasan, karena terdapat pengaduk yang diletakkan pada poros badan atau tangki crystallizer maka cairan induk akan tertarik menuju daerah pengaduk yang menuju kearah atas, lalu bersikulasi turun kebawah bila hasilnya sudah berupa kristal. Namun bila tidak akan dikembalikan menuju Heat Exchangers kembali melalui pipa sirkulasi.  Karena masuk ke HE maka akan terjadi kenaikan titik didih sekitar 1- 20F. Terjadi pemisahan antara cairan induk dan kristal pada draft tube ialah karena adanya perbedaan massa jenis, dimana massa jenis kristal akan lebih besar dila dibandingkan dengan cairan induk, oleh karena itu adanya gaya gravitasi mengakibatkan kristal tersebut akan turun kebawah dan diambil sebagai produk. Produk kristal memiliki ukuran sekitar 6 – 20 mesh untuk padatan KCl, (NH4)2SO4, dan (NH4)H2PO4

  1. Draft Tube Crystallizer

Jenis Crystallizer ini tidak jauh berbeda dengan DTB Crystallizer, hanya saja pada jenis ini tidak ada baffle atau penyekat antara draft tube dengan badan crystallizer. Namun kelemahan dari Crystallizer  jenis ini kenaikan titik didih atau untuk dapat membuat larutan menjadi lewat jenuh agak sulit, karena jenis ini beroperasi dengan lambat dan panjang, namun akan didapatkan hasil atau magma yang cukup banyak.

  1. 2.      Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer

Crystallizer jenis ini menggunkan prinsip sirkulasi cairan atau larutan induk, dimana umpan maupun hasil kristaliasi akan masuk kedalam Sheell and Tube Heat Exchangers untuk didinginkan. Perbedaan dengan jenis crystallizer lainnya ialah karena pada saat dibadan crystallizer terbentuk campuran kristal dan cairan induk, maka akan terjadi tumbukan antara cairan dengan kristal sehingga suhu campuran akan meningkat, untuk mendinginkannya diperlukan medium pendingin. Crystallizer ini mneggunakan prinsip pendinginan, karena kristalisasi dapat terjadi melalui pembekuan (solidification).

baffle surface

Gambar 3. Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer

Terlihat pada gambar diatas, umpan dan recylce kristalisasi bersama-sama masuk kedalam medium pendingin. Namun ada kelemahannya yaitu, panjang untuk pertukaran panas pada HE dan kecepatan umpan serta recycle kristalisasi sangat di perhitungkan, sebab jika terjadi kesalahan penurunan suhu untuk dapat melakukan kristalisasi pada proses pendinginan tidak berlangsung secara optimal.

Oleh karena itu, pompa untuk sirkuasi sangat dikontrol dengan baik, karena pompa itulah yang menciptakan laju alir disamping bukaan valve. Adanya pompa menyebabkan cairan induk akan mengalir secara turbulen baik didalam HE maupun didalam badan Crystalizer, maka akan terjadi sering tumbukan untuk menghasilkan kristal, dimana terdapat sekat antara saluran Head HE dengan ujung keluaran cairan induk. Bila kristal sudah terbentuk pada cairan induk yang sudah lewat jenuh, maka kristal akan turun karena adanya gaya gravitasi dan perbedaan massa jenis. Kristal dari Crystallizer jenis ini berukuran besar antara 30 – 100 mesh.

  1. 1.      OSLO Evaporative Crystallizer

Crystallizer ini dirancang berdasarkan adanya perbedaan suspensi yang mulai terbentuk pada chamber of suspension. Dimana terdapat HE eksternal yang bertujuan untuk membuat keadaan lewat jenuh pada suhu supersaturasinya.

oslo

Gambar 4. OSLO Evaporative Crystallizer

Terlihat pada gambar, bahwa umpan masuk pada G, karena dipompa umpan akan bergerak secara paksa, masuk kedalam evaporator yang terdapat HE, cairan umpan tersebut masuk kedalam B. Sebelum masuk ke B, pada bagian A cairan induk yang panas akan bercampur dengan panas penguapan pada bagian B. Laju penguapan tersebut harus dikontrol antara kerja pompa untuk mengalirkan cairan induk dengan perubahan panas campuran tersebut.

Pada bagian B terjadi proses pencampuran antara keadaan supersaturasi dengan kedaan penguapan, maka sering timbul scale atau kerak garam, sehingga akan mengganggu proses sirkulasi dari aliran tersebut. Sering kali diberikan bibit kristal pada bibit kristal untuk mempercepat pembentukan kristal-kristal yang kita harapkan.

  1. 1.      OSLO Surface Cooled Crystallizer

Tidak jauh berbeda dengan OSLO Evaporative Crystallizer, hanya saja cairan induk didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk kedalam crystallizer. Lainnya sama dengan jenis crystallizer OSLO EC.

oslo cool

             Gambar 5. OSLO Surface Cooled Crystallizer

  1. 1.      Vacuum Pan Crystallizer

Jenis crystallizer ini banyak digunakan pada industri gula. Proses kristalisasi gula terjadi didalam suatu pan masak yang prosesnya kerjanya dilakukan pasa keadaan vakum (hampa udara). Disamping itu proses kristalisasi dapat dilakukan baik dengan single effect maupun multiple effect. Kondisi vakum dimaksudkan agar nira yang diperoleh tidak rusak. Nira yang digunakan ialah nira yang kental yang merupakan bahan baku proses kristalisasi. Dalam kristalisasi kadar kotoran dan air pada nira kental akan dihilangkan.

vaccum

  Gambar 6. Vacuum Pan Crystallizer

Pada nira kental masih terkandung kotoran sekitar 15-20% zat terlarut, sedangka kadar airnya sekitar 35-40% (dengan Brix 60-65). Sebelum dilakukan kristalisasi dalam pan masak, nira pekat terlebih dahulu dialirkan gas SO2 untuk proses bleaching dan untuk menurunkan viskositas masakan nira. Langkah pertama dari proses kristalisasi adalah menarik masakan (nira pekat) untuk diuapkan airnya sehingga mendekati kondisi jenuhnya. Dengan pemekatan secara terus-menerus koefisien kejenuhannya akan meningkat. Pada keadaan lewat jenuh maka akan terbentuk suatu pola kristal sukrosa. Setelah itu langkah membuat bibit yaitu dengan memasukkan bibit gula kedalam gula kedalam pan masak kemudian melakukan proses pembesaran kristal. Pada proses masak ini kondisi kristal harus dijaga jangan sampai larut kembali ataupun tidak beraturan.

 


QS World University Rankings by Subject 2011 Engineering & Technology – Chemical Engineering


 

A degree in chemical engineering often leads to a career in manufacturing and refining industries, where engineers are involved in the design and implementation of systems to mass produce materials or products.
The 2012 QS World University Ranking for Chemical Engineering lists the best universities in the world to study chemical engineering. See the full university subject rankings below to find out which universities have performed the best in chemical engineering this year.

Rank School AR ER CPP Score
1 Massachusetts Institute of Technology (MIT)
United States
5 Stars 100.0 84.9 82.2 90.1
2 University of Cambridge
United Kingdom
5 Stars 85.4 93.8 56.8 79.3
3 University of California, Berkeley (UCB)
United States
0 Stars 87.9 64.4 77.5 77.7
4 University of Oxford
United Kingdom
5 Stars 71.5 94.1 60.3 74.9
5 Stanford University
United States
5 Stars 73.3 73.9 75.1 74.0
6 University of California, Los Angeles (UCLA)
United States
0 Stars 55.1 63.7 83.1 66.1
7 California Institute of Technology (Caltech)
United States
5 Stars 72.6 43.8 67.8 62.5
8 Imperial College London
United Kingdom
0 Stars 69.9 65.7 47.8 62.0
9 Yale University
United States
5 Stars 48.9 62.0 77.3 61.4
10 National University of Singapore (NUS)
Singapore
0 Stars 51.5 57.4 68.2 58.3
11 ETH Zurich (Swiss Federal Institute of Technology)
Switzerland
0 Stars 57.3 49.9 66.2 57.8
12 The University of Melbourne
Australia
0 Stars 54.1 68.1 49.0 56.8
13 Princeton University
United States
5 Stars 55.0 40.6 70.2 55.2
14 University of Toronto
Canada
0 Stars 56.8 45.5 60.6 54.6
15 McGill University
Canada
0 Stars 54.8 59.4 46.3 53.6
16 University of Pennsylvania
United States
5 Stars 31.2 55.0 81.2 53.3
17 University of Michigan
United States
5 Stars 43.8 57.0 62.0 53.2
18 The University of Manchester
United Kingdom
0 Stars 52.5 56.8 47.6 52.3
19= University of Texas at Austin
United States
0 Stars 44.8 43.8 66.6 51.0
19= Cornell University
United States
5 Stars 46.8 49.8 57.9 51.0
21 The University of Tokyo
Japan
0 Stars 59.5 44.6 44.9 50.7
22 Delft University of Technology
Netherlands
0 Stars 53.4 41.4 50.1 48.8
23 Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne
Switzerland
0 Stars 40.4 42.3 64.9 48.3
24 Columbia University
United States
5 Stars 32.0 55.3 62.2 48.1
25 Georgia Institute of Technology
United States
0 Stars 40.0 43.5 63.0 48.0

BASF N20 Decomposition and DeNOx Technologies


ENGINEERING HOW-TO November 29, 2012

BASF building production plant for specialty zeolites in Ludwigshafen

Gerald Ondrey

BASF SE (Ludwigshafen, Germany; www.basf.com) is investing in the construction of a production plant for specialty zeolites at its Ludwigshafen, Germany, headquarters site. The plant is expected to start up operations in the first quarter of 2014, significantly increasing BASF’s production capacity for specialty zeolites. [more]

Eco-efficiency methodology is a tool for sustainable chemical production

Scott Jenkins

An ecological efficiency methodology developed by BASF SE (Ludwigshafen, Germany; www.basf.com) is a powerful tool for assessing the sustainability of chemical processes and operations. The company’s Eco-Efficiency analysis is a holistic method to life-cycle assessment that has been validated externally, says Peter Saling, a leader of BASF’s Sustainability Center. [more]

Development Speeds up In Catalysis

Joy LePree

There might be as many categories of catalysts as there are chemical processing applications. And, no matter what the specialty or application, most catalyst producers are in a constant state of research and development in order to meet the demands of their chemical processing customers, as well as to develop innovative catalysts for new applications and growing market areas. Recent efforts of some of the top catalyst producers are improving…[more]

FROM OUR SPONSOR

BASF N20 Decomposition and DeNOx Technologies

Nitrous oxide, or laughing gas, is 310 times more effective than carbon dioxide (CO2) in trapping heat in the atmosphere. BASF offers state-of-the-art N2O decomposition and selective catalytic reduction (SCR) DeNOx technologies which reduce N2O and nitric oxides (NO and NO2). Both catalyst families, which were originally developed to reduce harmful impurities in nitric acid and adipic acid plants, have been utilized for emission removal in numerous industrial applications, including off-gases from various sources. They can be used either individually or in various combinations in relevant plant configurations.

BASF N2O decomposition technology utilizes a series of full, 100% active homogeneously extruded catalysts with a thermally stable spinell structure. The catalysts offer the highest temperature resistance and do not leach. They are available in various geometries and sizes, including extrudates, ring tablets, and honeycombs. An N2O efficiency of greater than 90% is possible. The choice of shape and size depends on operating conditions and the specifications that need to be met.

The BASF DeNOx system provided as a complete system together with our engineering partners is an end-of-pipe solution, which can either be installed before the expander or directly before the stack. The most advanced catalyst is O4-89 as an extrudate, but in some niche applications, especially at ambient pressure, the monolithic catalyst O4-82 can be used. BASF O4-89 has been successfully applied for the removal of NOx from tailgas derived from nitric acid plants, caprolactam units, gas turbines, refinery furnaces, waste incinerators, power plants, and diesel engines.

BASF’s flexible solutions for N2O decomposition include easy handling capability, compatibility with any Pt gauze, and minimal impact on quality. The SCR DeNOx whether used alone or in conjunction with the N2O system is an ideal solution for handling tailgas. Along with its wide range of operating window for temperatures and pressures, it achieves high NOx conversion in addition to low pressure drop and NH3 slip. Both technologies are backed by reliable warranties and outstanding support and service that are associated with BASF – The Chemical Company. At BASF, we create chemistry for a sustainable future.

For more details and to download the complete technical note visit www.catalysts.basf.com/enviro



Chemploy
VIEW JOBSPOST REUMESPOST JOBSVIEW RESUMESJOB ALERTSSubscribeEmail to Friend

 

Featured Article:

Changes likely for Congressional committees with jurisdiction over chemical industry issues

The 113th Congress will see several changes in leadership of Congressional Committees that have jurisdiction over some of the chemical industry’s top legislative issues, according to the Society of Chemical Manufacturers & Affiliates (SOCMA). READ MORE »

Fresh Jobs in the Chemical Process Industries

More Jobs | Post a Job

Search Resumes | Submit your Resume

 

 


Chemical Processing Jobs


https://www.chevron.apply2jobs.com/ProfExt/index.cfm?fuseaction=mExternal.showJob&RID=22563&CurrentPage=1

 

Job Title: Technical Services Engineer – Hydroprocessing
Requisition Number: 319722563
Job is available in these locations: Richmond, California, USA
Pascagoula, Mississippi, USA
Houston, Texas, USA
Overview External: Chevron is one of the world’s leading energy companies, with approximately 60,000 employees working in countries around the world. We explore, produce and transport crude oil and natural gas; refine, market and distribute fuels and other energy products; manufacture and sell petrochemical products; generate power; and develop future energy resources, including biofuels and geothermal energy. To learn more, visit the Explore Chevron website.

Chevron is accepting online applications for the position of Technical Service Engineer located in Richmond, California or Pascagoula, Mississippi or Houston, Texas through June 25th, 2012 at 11:59 p.m. (EST).

The Technical Service Engineer will perform a variety of technical support work for the Hydrocracking, Hydrotreating and Lube Hydroprocessing technologies. This work involves providing technical service for existing business and for preparation of technical proposals related to keeping the business. It also requires onsite support for unit startups and review of operating and safety procedures. Approximately 25% travel will be required.

Position Details: Responsibilities for this position may include but are not limited to:

Technical Service:

  • Obtain, condense, and interpret operating data to monitor catalyst performance, recommend operating guidelines, and estimate remaining catalyst life.
  • Plan and lead in-plant shutdown and startup assistance, including catalyst loading, regeneration, and sulfiding consultation. Administer plant performance test runs as required.
  • Answer clients’ operating questions to stay close to the customer and lead the effort to retain the catalyst business. Level of support is dependent on the marketing strategy for each customer. Includes some process equipment troubleshooting. Will include site visits and periodic operating data reports
  • Participate in conceptual design studies in support of licensed unit re-vamp or de-bottlenecking.
  • Be able to understand process design packages
  • Run ProVision models to simulate the process to diagnose operating and equipment problems.
  • Generate Process and Analytical Manuals
  • Answer clients’ questions as part of design follow-up support
  • There is a marketing role to this position as it will act as the front end loading for catalyst resale to customers; new and existing.

    New Plant Startup Support

  • Plan and lead new plant startup assistance, including commissioning, equipment process inspections, catalyst loading, sulfiding, start-up, and plant performance test runs.
  • Document each phase of the startup, and work with the customer to manage their needs and expectations.

    Required Qualifications:

  • Bachelor’s degree in chemical engineering.
  • A minimum of 5 years process engineering experience in the oil and gas industry. Prefered refinery experience in a hydroprocessing unit
  • Willingness and ability to travel both domestically and internationally up to 25% of time.
  • Technical Support – Require experience supporting commercial hydrocracking/hydroprocessing units in a refinery or as a catalyst supplier. Ability to acquire and evaluate data to recommend changes to achieve customer operating objectives. Must have basic knowledge of process design tools such as PROVISION (or similar process simulator), heat exchanger design tools, etc.
  • Hydroprocessing Experience –Technical and operating experience in hydrocracking operations within a refinery, kinetics, and data analysis required. Similar experience with hydrotreaters is a plus.
  • Field Experience – Basic understanding of how equipment functions in the field and overall plant operation is required. Knowledge and understanding of a broad variety of hydroprocessing-specific equipment is a plus.
  • Communication Skills – Ability to communicate with clients to effectively promote our technology and represent Chevron in a positive light to outside companies. Ability to communicate well with teammates and managers during project and tech service work required. Proven ability to listen to clients and put hteir request into actionable work list.
  • Ability to prepare and effectively present technical and operating summaries to all levels of customer organization to evaluate unit operations and recommend operating strategy.
  • Organizational/Leadership Skills – Demonstrated ability to plan, schedule, and manage multiple work activities to meet customer needs and expectations required. Must possess ability to manage a team and delegate work out to team. Must be able to interact with a variety of experience levels and position types.

    Preferred Qualifications:

  • Ability to design a variety of unit operations such as heat exchangers, vessels, distillation columns, etc. is a plus but not required.

    Relocation Options:

    Relocation may be considered within Chevron parameters.

    International Considerations:

    Expatriate assignments will not be considered.

    EOE M/F/D/V

Education Required:
Education Required Discipline:
Employee Type: Full Time
City/Town: Richmond
State/Province/County: California
Country: USA
Relocation Eligible: Yes
Salary:
Share on facebook Share on linkedin Share on twitter
Apply for This Job
Email A Friend
If you are interested in this position, you must respond online. No phone, fax or email inquiries from potential applicants, external recruiters or other interested parties, please.

Chevron is an Equal Opportunity Employer

Chevron participates in E-Verify in certain locations as required by law.
For more information about E-Verify please click on a link below.
E-Verify Poster (English) or E-Verify Poster (Spanish)


Flotek Industries announces chemical supply agreement with Pioneer Natural Resources


 

Low-Cost Bulk Bag Filler for Food and Dairy Powders
Our economical design incorporates features for USDA Acceptance. All stainless steel “easy clean” construction.  Low-profile design can be used with a pallet scale for gain-in-weight filling. Features include: easy strap height adjustment; dust-tight inflatable liner spout seal; bag liner inflation; integral dust venting; simple operator controls. We also offer: Variable speed powder feeders. Magnets and metal detection. Automatic sampling. Bag densification. Overhead trolley systems. Warehouse pallet handling.
Powder-Solutions Group  877-939-0510

FEATURED CONTENT
Pacific Klamath Energy utilizes V-Cone flowmeter to solve problem in co-generation plant
Providing accurate and reliable steam flow measurement to the steam host is a very important aspect in generating revenue for a co-generation facility.
BREAKING NEWS

NEW PRODUCTS
Multi-tasking Titrator
JM Science’s Potentiometric Titrator (COM-1700) can run four titrations and stirrers that easily allow end user to do different types of titration including potentiometric, photometric, polarization, and conductometric titrations in parallel.
Low Profile, High Capacity Classifer
A new Vibroscreen® Flo-Thru low profile screener from Kason Corp. classifies bulk material into three fractions at high rates. It employs two screening decks and two unbalanced-weight gyratory motors mounted on opposing exterior sidewalls of the unit, instead of one motor positioned beneath the screening chamber.

American Water observes ‘National Drinking Water Week’


Water/Waste Processing eNews: May 8, 2012
FEATURED CONTENT
Flowmeter Solves Tight Installation Challenge
Municipal water systems present a challenging operating environment in which the accurate and reliable measurement of liquid flow is essential for cost-effective plant and system operation. In order for such systems to run as economically as possible, accurate flow measurement is necessary to ensure that limited water resources are processed efficiently.
BREAKING NEWS
NEW PRODUCTS
Uranium Removal Process
Water Remediation Technology’s Z-92® process removes uranium by passing contaminated water through a fluidized bed of their proprietary Z-92® adsorptive media in treatment columns without adding chemicals, generating liquid waste, or wasting water.
Level and Pressure Measurement Instrumentation
Keller is a leading manufacturer of level and pressure measurement instrumentation. Many products include guaranteed lightning protection and short, three-day lead times at no additional cost.

LAST CHANCE TO REGISTER for the June 12-14 PUMP GUY SEMINAR, NEW ORLEANS


LAST CHANCE TO REGISTER for the June 12-14 PUMP GUY SEMINAR, NEW ORLEANS

Deadline: May 15

For more information and to register, click here.

Send a group to the Pump Guy Seminar and save $295 on each registration after the first.

Click here for more details and to register.

If you have questions about this training, contact Matt Migliore at Matt@GrandViewMedia.com or 610.828.1711.

A Message From the Pump Guy: “A pipe wrench is a mechanical tool. A screwdriver is also a mechanical tool. The mechanic must know the difference, and he must know when and where to apply each tool. For a successful dinner party, the host or hostess must understand when and where to use a steak knife and a serving spoon.”Likewise, pump curves and system curves are important tools for the engineers and technicians to resolve pump problems. These tools are as important to pump reliability as vibration analysis or laser alignment. You will graduate from the Pump Guy Seminar with a complete understanding of pump performance curves and dynamic system curves.

“As you incorporate the curves into your reliability program, you’ll watch the unplanned pump maintenance disappear. Your pumps will behave. I guarantee it.”


Attendee Comments:

“For my line of work, this seminar was dead on. It met my needs fully. Best money my company has ever spent for a training course.”

“I thought this seminar was one of the best I’ve attended in my career. Larry gave me the practical tools/steps to analyze a pump system. Now I feel I can go back to my plant and look at a few systems that we seem to be working on too much.”

“Excellent presentation! While I have done system calculations (i.e., ‘pump calculations’) for over 15 years, I can see that what I have been doing has missed the mark in a lot of cases. Thanks to Larry, I now know how to provide a good calculation/analysis of a system that will truly meet its extremes of operating.”


Who is the Pump Guy? The Pump Guy is Larry Bachus, a regular contributor to Flow Control magazine and a world-renowned expert on all things pump-related. Larry has nearly 30 years experience working with industrial pumps and has an interesting and engaging presentation style that really resonates with the folks who attend his trainings. His areas of expertise include diagnosing pump problems and seal failures. He has taught pump and seal improvement courses at major plants and facilities across the globe. Since October of 2007, Larry has been working with Flow Control magazine to present the Pump Guy Seminar throughout the continental United States. For a taste of the sort of knowledge Larry will impart during his training, please read the articles highlighted in the “Cheat Sheets” series to the right.

Key Topics Covered In the
Pump Guy Seminar:
> Head vs. Pressure
> Absolute & Pressure Gauges
> NPSHr vs NPSHa
> Cavitation Causes & Prevention
> The Affinity Laws
> Flow & Head
> Efficiency Formula & Application
> Power Formula & Application
> Pump Classifications
> Suction-Specific Speed
> Pump Curves vs. System Curves
> Shaft Deflection
> Pump Motor Alignment
> Bearings
> Pump Packing
> Mechanical Seals
> Pump Piping
For a full course outline, CLICK HERE.For more info and to register for the Pump Guy Seminar, CLICK HERE.

If you have questions about the Pump Guy Seminar and/or need assistance with the registration process, please contact Matt Migliore at 610.828.1711 or Matt@GrandViewMedia.com.


The Pump Guy Seminar, New Orleans, will be at the same time/location as the Industrial Flow Measurement Seminar, presented by renowned flow measurement expert, David W. Spitzer. For more information on the Industrial Flow Measurement Seminar, CLICK HERE.

CHEMICAL ENGINEERING MAGAZINE


sorry, upload has been deleted


JANUARY 2012

Chemical Engineering Magazine December 2011

Chemical Engineering Magazine November 2011

CHEMENG MAGAZINE OCTOBER 2011

Chemical engineering magazine is one of chemical engineering references for chemical engineers. It gives more updated chemical engineering and chemical industry information compared with text books, manual and even chemical industry standards.

Getting information from chemical engineering magazine is very important for every chemical engineer and engineers who work in chemical plant or chemical industry field.

CHEMENG MAGAZINE AUGUST 2011

There are many chemical engineering magazines available in the market both paid and free subscription services. Some chemical engineering magazines offers various chemical engineering fields at every its publication. And some of them only publish one focus topic, such as waste water treatment.

CHEMENG MAGAZINE MARCH 2011

In this website you will find free chemical engineering magazine subscription offers from several publishers. The publishers offer both digital and printed chemical engineering magazine.

In addition, I will update the chemical engineering magazine list in this website regularly to give more options or alternatives information.

Select chemical engineering magazine you wish to subscribe. Just click the image on the side bar and you will be brought to subscription form.

CHEMENG MAGAZINE JUNE 2011

CHEMENG MAGAZINE JULY 2011

CHEMENG MAGAZINE SEPTEMBER 2011


WEBSITE CHEMENG


Website of Chemical Engineering

http://www.che.com/

 

Website of Chemical Processing

http://www.chemicalprocessing.com/

 

Website of  Process Equipment and Control

http://www.cpecn.com/

AIChe

http://www.aiche.org/

 

Institution of Chemical Engineers

http://www.icheme.org/


Prarancangan pabrik kimia


Industri kimia merupakan salah satu kelompok industri yang diandalkan untuk dapat mendorong pertumbuhan sektor industri yang perkembangannya telah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Industri kimia berorientasi kepada ketersediaan sumber daya alam, sehingga negara kita yang kaya akan beragam sumber daya alam mempunyai potensi dan modal dasar yang besar sebagai negara unggulan bagi industri kimia.

Kebutuhan berbagai bahan baku dan bahan penunjang di Indonesia masih banyak didatangkan dari luar negeri. Jika bahan baku dan bahan penunjang tersebut bisa dihasilkan di dalam negeri, hal itu tentunya akan menghemat pengeluaran devisa, meningkatkan ekspor, dan mengembangkan penguasaan teknologi.

PRARANCANGAN PABRIK KIMIA merupakan salah satu mata kuliah wajib dan TUGAS AKHIR (SKRIPSI) untuk mendapat gelar sarjana teknik.

Berikut contoh-contoh skripsi TEKNIK KIMIA prarancangan pabrik kimia, silahkan download saja…

1. Skripsi Prarancangan Pabrik Vinil Asetat dari Etilena, Asam Asetat dan Oksigen dengan Kapasitas 40.000 ton/tahun

pabrik vinil asetat

2. Skripsi PRARANCANGAN PABRIK 2-BUTENE DARI PROPYLENE DENGAN PROSES DISPROPORSIONASI KAPASITAS 25.150 TON/TAHUN

pra rancangan pabrik 2-butane

3.  PRARANCANGAN PABRIK PHENYL ETHYL ALCOHOL DARI BENZENE DAN ETHYLENE OXIDE KAPASITAS 1000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK PHENYL ETHYL alkohol

4.  SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK BUTIRALDEHID DARI PROPILEN, HIDROGEN DAN KARBON MONOKSIDA MENGGUNAKAN KATALIS NaX – ZEOLIT KAPASITAS 180.000 TON PER TAHUN

pra rancangan pabrik butiraldehid 180.000ton

5. Pra rancangan pabrik Pembuatan Tetradecene dari Asam Palmitat

pra rancangan pabrik tetradecene

6.  PRARANCANGAN PABRIK SIKLOHEKSANA DENGAN PROSES HIDROGENASI BENZENA KAPASITAS 91.509 TON PER TAHUN

pra rancangan pabrik sikloheksane

7.  PRARANCANGAN PABRIK AMMONIUM NITRATE DARI AMMONIA DAN ASAM NITRAT KAPASITAS 150.000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK AMMONIUM NITRATE

8.   SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK ACETALDEHYDE DARI ACETYLENE DENGAN PROSES GERMAN KAPASITAS 61.500 TON PER TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK ACETALDEHYDE 61.500ton

9. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK ACETALDEHYDE DARI ACETYLENE DENGAN PROSES GERMAN KAPASITAS 71.500 TON PER TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK ACETALDEHYDe 71.500ton

10. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK BUTYNEDIOL DARI ACETYLENE DAN FORMALDEHYDE KAPASITAS 45.000 TON / TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK BUTYNEDIOL 45.000ton

11. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK BUTYNEDIOL DARI ACETYLENE DAN FORMALDEHYDE KAPASITAS 50.000 TON / TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK BUTYNEDIOL 50.000ton

12. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK BUTIRALDEHID DARI PROPILEN, HIDROGEN DAN KARBON MONOKSIDA MENGGUNAKAN KATALIS NaX – ZEOLIT KAPASITAS 180.000 TON PER TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK butyraldehid

13. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK DIBUTYL PHTHALATE DARI PHTHALIC ANHYDRIDE DAN BUTANOL PROSES ESTERIFIKASI KAPASITAS 15.000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK DIBUTYL PHTHALATE

14. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK KAPROLAKTAM DARI SIKLOHEKSANON DAN HIDROKSILAMIN SULFAT KAPASITAS 40.000 TON PER TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK KAPROLAKTAM

15. Skripsi prarancangan pabrik metanol dengan batubara

prarancangan pabrik metanol dengan batubara

16. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK SIRUP GLUKOSA DARI TEPUNG TAPIOKA DAN AIR KAPASITAS 50.000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK SIRUP GLUKOSA

17. SKRIPSI PERANCANGAN PABRIK NATRIUM KARBONAT DENGAN PROSES SOLVAY DARI AMONIA, GARAM DAN BATU KAPUR DENGAN KAPASITAS 250.000 TON/TH

PERANCANGAN PABRIK NATRIUM KARBONAT 250.000ton

18. SKRIPSI PERANCANGAN PABRIK NATRIUM KARBONAT DENGAN PROSES SOLVAY DARI AMONIA, GARAM DAN BATU KAPUR DENGAN KAPASITAS 200.000 TON/TH

PERANCANGAN PABRIK NATRIUM KARBONAT 200.000ton

19.SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK ASAM SULFAT DARI SULFUR DAN UDARA DENGAN PROSES KONTAK KAPASITAS 225.000 TON PER TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK ASAM SULFAT 225.000ton

20. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK NATRIUM NITRAT DARI NATRIUM KLORIDA DAN ASAM NITRAT KAPASITAS 60.000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK NATRIUM NITRAT 65.000ton

21.  SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK NATRIUM NITRAT DARI NATRIUM KLORIDA DAN ASAM NITRAT KAPASITAS 70.000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK NATRIUM NITRAT 70.000ton

22. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK SIRUP GLUKOSA DARI TEPUNG TAPIOKA DAN AIR KAPASITAS 55.000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK sirup glukosa 55.000ton

23. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK ASAM LEMAK DARI MINYAK SAWIT KAPASITAS 80.000 TON/TAHUN

Prarancangan Pabrik Asam Lemak 80.000ton

24. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK AMMONIUM NITRATE DARI AMMONIA DAN ASAM NITRAT KAPASITAS 125.000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK AMMONIUM NITRATE 125.000ton

25. SKRIPSI PRA RANCANGAN PABRIK ETHYL ACRYLATE DARI ETHYL 3-ETHOXY PROPIONATE KAPASITAS 25.500 TON / TAHUN

PRA RANCANGAN PABRIK ETHYL ACRYLATE

26. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK ASAM SULFAT DARI SULFUR DAN UDARA DENGAN PROSES KONTAK KAPASITAS 300.000 TON / TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK ASAM SULFAT 300.000TON

27. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK PHENYL ETHYL ALCOHOL DARI BENZENE DAN ETHYLENE OXIDE KAPASITAS 1000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK PHENYL ETHYL ALCOHOL 1000ton

28. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK TRIMETHYLETHYLENE DARI METHYLBUTENE KAPASITAS 35.000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK TRIMETHYLETHYLENE

29. SKRIPSI PRA RANCANGAN PABRIK ETHYL AKRILATE DARI ETHYL 3-ETHOXY PROPIONATE KAPASITAS 21.500 TON / TAHUN

PRA RANCANGAN PABRIK ETHYL AKRILATE 21.500ton

26.  SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK ASAM FORMIAT DARI METIL FORMAT DAN AIR KAPASITAS 13.150 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK asam formiat 30.000ton

27. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK BUTADIENASULFON DARI 1,3 BUTADIENA DAN SULFURDIOKSIDA KAPASITAS 15.150 TON PER TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK BUTADIENASULFON 15.150ton

28. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK BUTIL ASETAT DARI ASAM ASETAT DAN BUTANOL DENGAN PROSES BATCH KAPASITAS 13.150 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK BUTIL ASETAT 13.150ton

29. SKRIPSI PRARANCANGAN PABRIK GLISEROL DARI CRUDE PALM OIL (CPO) DAN AIR DENGAN PROSES CONTINUOUS FAT SPLITTING KAPASITAS 33.000 TON/TAHUN

PRARANCANGAN PABRIK GLISEROL 33.000ton

30. Skripsi Pra Rancangan Pabrik Dimethyl Terephthalate

Pabrik Dimethyl Terephthalate

31. To be continued….

actually still a lot that could be material for the final project because it has not had time would not be updated


Pengenalan Software Hysys


HYSYS adalah program yang dirancang untuk mensimulasikan proses di dalam suatu pabrik. Dengan menggunakan program ini, perhitungan-perhitungan untuk mendesain suatu proses yang rumit (karena melibatkan banyak rumus) dan memerlukan waktu yang lama bila dikerjakan secara manual (by hand) dapat dengan cepat dilakukan.

 

 

HYSYS sendiri adalah singkatan dari Hyphothetical System (sistem hipotesa). Simulasi proses artinya membuat suatu proses produksi suatu bahan ke dalam diagram alir proses (Process Flow Diagram) dan menghitung neraca massa dan neraca panas/energi pada masing-masing peralatan yang digunakan. HYSYS dapat digunakan untuk merancang beberapa peralatan pada pabrik yang baru atau akan didirikan (sizing) atau mengevaluasi kinerja suatu peralatan pada pabrik yang sudah ada (rating). HSYSY memiliki kelebihan daripada program-program simulasi proses lainnya. Program ini bersifat interaktif karena langsung memberitahukan input apa yang kurang pada saat penggunanya mendesain suatu proses dan juga langsung memberitahukan apabila ada kesalahan yang terjadi. Dengan demikian program ini dapat dikatakan user friendly atau mudah digunakan.

You can download this book:

HYSYS : An Introduction to Chemical Engineering Simulation

Content

Chapter 1. Starting With Hysys

Chapter 2. Equations of States

Chapter 3. Pump

Chapter 4. Compressor

Chapter 5. Expander

Chapter 6. Heat Exchanger

Chapter 7. Flash Separator

Chapter 8. Conversion Reaction

Chapter 9. Equilibrium Reaction

Chapter 10. CSTR

Chapter 11. Absorber

Chapter 12. Separation Columns

Chapter 13. Examples

 

LINK HYSYS


PENANGANAN EFEK RADIASI


Dalam fisika, radiasi mendeskripsikan setiap proses di mana energi bergerak melalui media atau melalui ruang, dan akhirnya diserap oleh benda lain. Orang awam sering menghubungkan kata radiasi ionisasi (misalnya, sebagaimana terjadi pada senjata nuklir, reaktor nuklir, dan zat radioaktif), tetapi juga dapat merujuk kepada radiasi elektromagnetik (yaitu, gelombang radio, cahaya inframerah, cahaya tampak, sinar ultra violet, dan X-ray), radiasi akustik, atau untuk proses lain yang lebih jelas. Apa yang membuat radiasi adalah bahwa energi memancarkan (yaitu, bergerak ke luar dalam garis lurus ke segala arah) dari suatu sumber. geometri ini secara alami mengarah pada sistem pengukuran dan unit fisik yang sama berlaku untuk semua jenis radiasi. Beberapa radiasi dapat berbahaya.

Radiasi dapat diartikan sebagai energi yang dipancarkan dalam bentuk partikel atau gelombang. Ditinjau dari massanya, radiasi dapat dibagi menjadi radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Radiasi elektromagnetik adalah radiasi yang tidak memiliki massa. Radiasi ini terdiri dari gelombang radio, gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak, sinar-X, sinar gamma dan sinar kosmik. Radiasi partikel adalah radiasi berupa partikel yang memiliki massa, misalnya partikel beta, alfa dan neutron.

Jika ditinjau dari “muatan listrik”nya, radiasi dapat dibagi menjadi radiasi pengion dan radiasi non-pengion. Radiasi pengion adalah radiasi yang apabila menumbuk atau menabrak sesuatu, akan muncul partikel bermuatan listrik yang disebut ion. Peristiwa terjadinya ion ini disebut ionisasi. Ion ini kemudian akan menimbulkan efek atau pengaruh pada bahan, termasuk benda hidup. Radiasi pengion disebut juga radiasi atom atau radiasi nuklir. Termasuk ke dalam radiasi pengion adalah sinar-X, sinar gamma, sinar kosmik, serta partikel beta, alfa dan neutron. Partikel beta, alfa dan neutron dapat menimbulkan ionisasi secara langsung. Meskipun tidak memiliki massa dan muatan listrik, sinar-X, sinar gamma dan sinar kosmik juga termasuk ke dalam radiasi pengion karena dapat menimbulkan ionisasi secara tidak langsung. Radiasi non-pengion adalah radiasi yang tidak dapat menimbulkan ionisasi. Termasuk ke dalam radiasi non-pengion adalah gelombang radio, gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak dan ultraviolet.

 

Contoh Efek Negatif

}  Radiasi Gamma dengan dosis 2 Sv (200 rem) yang diberikan pada seluruh tubuh dalam waktu 30 menit akan menyebabkan pusing dan muntah-muntah pada beberapa persen manusia yang terkena dosis tersebut, dan kemungkinan satu persen akan meninggal dalam waktu satu atau dua bulan kemudian. Untuk dosis yang sama tetapi diberikan dalam rentang waktu satu bulan atau lebih, efek sindroma radiasi akut tersebut tidak terjadi.

}  dosis radiasi akut sebesar 3,5 – 4 Sv (350 – 400 rem) yang diberikan seluruh tubuh akan menyebabkan kematian sekitar 50% dari mereka yang mendapat radiasi dalam waktu 30 hari kemudian. Sebaliknya, dosis yang sama yang diberikan secara merata dalam waktu satu tahun tidak menimbulkan akibat yang sama.

Efek Somatik Non – Stokastik :

}  Mempunyai dosis ambang radiasi

}  Umumnya timbul tidak begitu lama setelah kena radiasi

}  Ada penyembuhan spontan, tergantung kepada tingkat keparahan

}  Besarnya dosis radiasi mempengaruhi tingkat keparahan

Efek  Somatik  Stokastik :

}  Tidak ada dosis ambang radiasi.

}  Timbulnya setelah melalui masa tenang yang lama.

}  Tidak ada penyembuhan spontan.

}  Tingkat keparahan tidak dipengaruhi oleh dosis radiasi.

}  Peluang atau kemungkinan terjadinya tergantung pada besarnya dosis radiasi

Nilai Batas Dosis (NBD)

Adalah dosis terbesar  yang  diizinkan oleh Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) yang dapat diterima oleh pekerja radiasi dan anggota masyarakat dalam jangka waktu tertentu tanpa menimbulkan efek genetik dan somatik  yang berarti akibat pemanfatan tenaga nuklir.

Penanggulangan Terhadap Radiasi

}  Mencegah radioaktif terkontaminasi dengan lingkungan

}  Mengunakan alat pelindung diri berupa baju pelindung lengkap seluruh tubuh dan masker berfilter yang dilengkapi dengan suplai udara

}  Memperhatikan tingkat konsentrasi radiasi di udara

Penanganan Radiasi

Jika efek radiasi terjadi maka tindakan:

}  Tetap tenang dan jangan panik

}  Hindari dan jauhi dari pusat kejadian/reaktor

}  Lokasi yang dituju harus berlawanan dengan arah angin yang datang dari pusat kejadian / reaktor

}  Monitor terus kejadian tersebut dari berita resmi perintah.

}  Gunakan masker standar jika memungkinkan.

Pemanfaatan Radiasi

Bidang Pertanian

Pengendalian Hama Serangga

Pengawetan Makanan

Pengawetan makanan dengan radiasi tanpa     mengurangi nutrisi makanan

Bidang Kedokteran

Diagnosa, terapi, sterilisasi alat kedokteran

Bidang Komunikasi

Berbentuk radiasi elektromagnetik

Pembangkit Energi

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

silahkan download referensi materi penanganan efek radiasi:

efek radiasi

makalah penanganan efek radiasi

slide


CHEMICAL SAFETY


 

 

CHEMICAL SAFETY

Chemical safety adalah pencegahan dan pengelolaan mengenai efek gangguan, baik jangka pendek maupun jangka panjang terhadap manusia dan lingkungan dari proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, penggunaan dan pembuangan bahan-bahan kimia.

Setiap kegiatan penanganan Bahan Kimia Berbahaya didalamnya sudah pasti terkandung resiko bahaya yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan dampak kerugian. Baik dari sisi materi, moril dan social jika tidak ditangani secara serius sesuai dengan prosedur K3. Untuk itu dipandang perlu adanya penerapan K3 yang harus dilaksanakan dengan seksama dan terpadu oleh unit-unit kerja yang terlibat langsung dalam penanganan Bahan Kimia Berbahaya di tempat kerja. Penerapan K3 yang dimaksud adalah meliputi : Perencanaan, Pelaksanaan, Perbaikan/Pembinaan dan Penanggulangan yang bersifat darurat (emergency). Maksud dan tujuannya adalah:

1. Mencegah/menekan sekecil mungkin terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti Kebakaran, Keracunan, Peledakan, Penyakit akibat Kerja dan hal-hal lain yang dapat merugikan Perusahaan, Karyawan, Masyarakat dan Lingkungan.

2. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia atau Pekerja dibidang K3 khususnya bagi pekerja yang langsung terlibat dalam penanganan langsung terhadap Bahan Kimia Berbahaya tersebut.

Untuk itu perlu kiranya dibuat Standarisasi K3 guna untuk dipahami dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh semua Pekerja yang terkait dalam setiap tahapan kegiatan penanganan Bahan Kimia Berbahaya sebagai berikut :

A. PROSES PENGADAAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA

 

Petunjuk Pelaksanaan K3 :

1. Setiap pembelian/pengadaan bahan kimia berbahaya harus dicantumkan dengan jelas di dalam lembar PP/PO tentang kelengkapan informasi bahan berupa : a. Labeling

b. Informasi dampak Bahaya

c. Informasi P3K , APD (Alat Pelindung Diri)

2. Spesifikasi mutu kemasan/wadah harus tertulis dengan jelas dalam lembaran PP/PO dengan memperhatikan Keamanan, Ketahan, Efektifitas dan Efisiensi. Khusus dalam hal Botol/Bejana Bertekanan, harus dicantumkan WARNA yang disesuaikan dengan jenis/golongan Gas. Dalam hal ini bisa berpedoman pada Standart Internasional ” Global Harmoni Syetem / GHS atau NFPA, UN, UMO,EEC dsb ).

3. Setiap wadah Bahan Kimia Berbahaya harus dilengkapi dengan TANDA RESIKO BAHAYA serta tindakan Pencegahan dan Penanggulangannya.

4. User /Pejabat yang mengajukan pembelian Bahan Kimia Berbahaya berkewajiban melengkapi syarat-syarat K3. Bila spesifikasi dan syarat K3 yang dimaksud sudah cukup lengkap dan memenuhi standart K3, maka pengajuan pembelian dapat diproses dan direalisasikan pengadaannya.

B. BONGKAR MUAT BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Petunjuk Pelaksanaan K3 :

1. Sebelum melaksanakan kegiatan bongkar muat Bahan Kimia Berbahaya, Pengawas setempat harus menyiapkan kelengkapan administrasi sebagai berikut : a. Daftar bahan yang akan dibongkar

b. Prosedur kerja dan Perijinan

c. Daftar pekerja/buruh serta penanggung jawab

2. Perencanaan dan tindakan-tindakan K3 harus dilaksanakan sebaik-baiknya sebelum dan sesudah mwelaksanakan bongkar muat.

3. Yakinkan bahwa para pekerja sudah mengetahui bahaya-bahaya yang ada serta cara-cara pencegahan dan penanggulangannya dengan cara memberikan Pengarahan dan penyuluhan K3 oleh pengawas setempat, terutama bagi para pekerja baru.

4. Sarana pelindung Diri, Alat Pemadam yang sesuai dan perlengkapan P3K harus disiapkan secukupnya dan digunakan sebagai mana mestinya.

5. Pengawas buruh berkewajiban memberikan pembinaan perbaikan kepada setiap pekerja bila mengetahui atau menemui adanya penyimpangan/pelanggaran peraturan K3 yang telah diberlakukan.

6. Pemasangan Rambu-rambu K3 meliputi Peringatan bahaya sesuai jenis, golongan Bahan Kimia harus dipasang dengan jelas, mudah dibaca, dimengerti dan terlihat oleh pekerja.

7. Setiap pekerja harus menghindari perbuatan/tindakan yang tidak aman seperti : a. Merokok ditempat yg terlarang

b. Tidak memakai APD yang disyaratkan

c. Mngerjakan pekerjaan yang bukan wewenang/dibidangnya

d. Bersendau gurau

e. Menolak perintah atasan dsb.

8. Setiap kecelakaan, Kebakaran, Peledakan termasuk kondisi berbahaya yang tidak mungkin dapat diatasi sendiri, haruslah dilaporkan secepatnya kepada atasan. Berikanlah keterangan yang benar kepada petugas Investigasi guna memudahkan pengambilan langkah-langkah perbaikan selanjutnya agar kasus yang sama tidak terulang kembali

9. P3K harus dilakukan dengan benar oleh yang berpengalaman kepada pekerja yang mengalami kecelakaan. Segera hubungi Dokter atau tim medis guna perawatan selanjutnya.

C. PENYIMPANAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Petunjuk Pelaksanaan K3 :

1. Gudang tempat penyimpanan Bahan Kimia Berbahaya harus dibuat sedemikian rupa hingga aman dari pengaruh Alam dan Lingkungan sekitarnya :

a. Memiliki system sirkulasi udara dan ventilasi yang cukup baik.

b. Suhu di dalam ruangan dapat terjaga konstan dan aman setiap saat.

c. Aman dari berbagai gangguan biologis ( Tikus, Rayap dll ).

2. Tata letak dan pengaturan penempatan bahan harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

a. Pemisahan dan pengelompokan untuk menghindari adanya bahaya reaktivitas.

b. Penyusunan agar tidak melebihi batas maksimum yang dianjurkan manufactur untuk menghindari roboh ( ambruk ) hingga tidak mengakibatkan kerusakan dan mudah pembongkaran serta kelihatan rapi.

c. Lorong agar tetap terjaga dan tidak terhalang oleh benda apapun, jika perlu buatkan garis pembatas lintasan alat angkat dan angkut.

d. Khusus bahan dalam wadah silinder/tabung gas bertekanan agar ditempatkan pada tempat yang teduh, tidak lembab dan aman dari sumber panas seperti ( listrik, api terbuka dll ).

3. Program House Keeping harus dilaksanakan secara periodic dan berkesinambungan yang meliputi : Kebersihan, Kerapihan dan Keselamatan.

4. Sarana K3 haruslah disiapkan dan digunakan sebagaimana mestinya.

5. Setiap pekerja yang tidak berkepentingan dilarang memasuki gudang penyimpanan Bahan Kimia Berbahaya dan setiap pekerja yang memasuki gudang harus memakai APD yang disyaratkan.

6. Inspeksi K3 oleh pekerja gudang harus dilaksanakan secara teratur/periodic yang meliputi pemeriksaan seluruh kondisi lingkungan, bahan, peralatan dan system. Segera amankan/laporkan jika menemukan kondisi tidak aman kepada atasan.

7. Pada setiap penyimpanan Bahan Kimia Berbahaya harus dilengkapi dengan LABELING ( Label isi, safety, resiko bahaya ) beserta uraian singkat Pencegahan, Penanggulangan dan Petolongan Pertama.

8. Petugas gudang harus dilengkapi buku petunjuk/pedoman K3 yang berkaitan dengan Penyimpanan BKB.

9. Setiap Pekerja dilarang makan dan minum ditempat penyimpanan Bahan Kimia Beracun.

10. Tindakan P3K harus dilakukan oleh yang berpengalaman. Segera hubungi dokter/tim medis atau bawa korban ke Rumah Sakit untuk mendapatka perawatan lebih lanjut.

D. PENGANGKUTAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA

 

Petunjuk Pelaksanaan K3 :

1. Sebelum melaksanakan pekerjaaan pengangkutan Bahan Kimia Berbahaya, Pengawas/atasan berkewajiban menyampaikan informasi K3 serta resiko bahaya yang ada pada setiap pekerja.

2. Hanya pekerja yang sudah mengerti tugas dan tanggung jawab serta adanya rekomendasi dari atasannya dibenerkan menangani pekerjaan pengangkutan Bahan Kimia Berbahaya.

3. Upaya prefentif, Pencegahan harus tetap dilakukan secara teratur berupa pemeriksaan kelayakan peralatan kerja, kondisi muatan dan kondisi fisik pekerja sebelum melaksanakan pekerjaan tersebut.

4. Menaikkan dan menurunkan Bahan Kimia Berbahaya harus dilakukan dengan hati-hati, jika perlu buatkan bantalan karet/kayu.

5. Perlengkapan K3 ( APD, APAR, P3K ) harus tersedia dalam kondisi siap pakai di lokasi kerja.

6. Kapasitas angkut alat angkat dan angkut tidak diperbolehkan melebihi kapasitas yang ada dan tidak boleh menghalangi pandangan penegmudi/sopir.

7. Pengemudi harus mengikuti peraturan lalu lintas yang ada dengan selalu hati-hati dan waspada. Hindari tindakan tidak aman dan tetap disiplin dalam mengemudikan kendaraan.

8. Jika kontak dengan Bahan Kimia Berbahaya, segera lakukan pertolongan pertama pada si korban dengan benar. Hubungi dokter/tim medis untuk penanganan selanjutnya.

9. Tanda labeling peringatan bahaya berupa tulisan, kode sesuai dengan resiko bahaya yang ada harus terpasang dengan jelas di depan muatan, samping kiri dan kanan, belakang muatan.

E. PENGGUNAAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA

Petunjuk Pelaksanaan K3 :

1. Sebelum menggunakan Bahan Kimia Berbahaya harus diketahui terlebih dahulu informasi bahayanya baik dari segi Kebakaran, Kesehatan, Rekatifitas, Keracunan, Korosif dan Peledakan ) serta cara-cara pencegahan dan penanggulangannya.

2. Perencanaan dan penerapan K3 harus dilakukan dengan sebaik-baiknya pada setiap pekerjaan penggunaan Bahan Kimia Berbahaya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. APD ( Alat Pelindung Diri ) yang sesuai dengan factor resiko bahayanya, APAR dan P3K harus disiapkan secukupnya dan digunakan sebagai mana mestinya.

b. Kondisi kerja, lingkungan sudah dinyatakan aman oleh pihak yang berwenang (Safety).

c. Peralatan kerja harus layak pakai.

d. Methode kerja/cara pelaksanaan kerja sudah aman dan efektif.

e. Kelengkapan administrasi sudah dipersiapkan ( perijinan angkut, perintah kerja, daftar pekerja dsb ).

3. Selama berlangsungnya kegiatan penggunaan Bahan Kimia Berbahaya hindari tindakan yang tidak aman. Usahakan bekerja sesuai dengan SOP.

4. Bila pekerjaan tersebut belum selesai dan pelaksanaannya diatur secara shift maka, setiap serah terima tugas dan tanggung jawab harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Situasi dan kondisi kerja menyeluruh harus dilaporkan dengan jelas terutama kondisi kerja yang kurang aman dan perlu penanganan yang intensif.

5. Bila pekerjaan telah selesai, amankan dan bersihkan alat-alat kerja, lingkungan kerja, wadah sisa-sisa bahan dsb agar segera dibersihkan sampai betul-betul kondisi keseluruhan sudah aman.

6. Lakukan tindakan P3K dengan segera jika terjadi kecelakaan hubungi tim medis/dokter untuk penanganan lebih lanjut.

F. PEMBUANGAN LIMBAH B3

Guna mendukung usaha dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari polusi, polutan dari limbah Bahan Kimia Berbahaya, dimana limbah tersebut diupayakan tidak akan merugikan masyarakat luas. Maka petunjuk pembuangan limbah dibawah ini harus diketahui dan dilaksanakan sebagaimana mestinya oleh seluruh pekerja :

Petunjuk Pelaksanaan K3 :

1. Setiap limbah baik itu karena rusak, purging, kadaluarsa, maupun sisa hasil proses yang tidak digunakan lagi harus dibuang pada saluran khusus yang telah disiapkan untuk itu.

2. Jika limbah Bahan Kimia tersebut ASAM dan BASA yang berbahaya harus dinetralkan terlebih dahulu sebelum dibuang, sedangkan untuk zat-zat logam berbahaya harus diendapkan dahulu hingga buangan betul-betul aman tidak melebihi NAB.

3. Limbah berupa hasil sisa GAS yang mudah terbakar dalam jumlah besar harus dibakar dengan cara yang terkendali dilakukan di Burningpit.

4. Semua wadah/kemasan bekas Bahan Kimia Berbahaya harus dibakar/ditanam sesuai petunjuk pejabat yang berwenang untuk itu.

5. Membuang limbah berbahaya dengan cara manual harus menggunakan APD yang sesuai. Hati-hati terhadap bahaya percikan, jatuh, terpeleset, tersiram dlsb.

Dengan memperhatikan JUKLAK penanganan Bahan Kimia Berbahaya diatas diharapkan segala kegiatan yang melibatkan pekerja dalam menangani Bahan kimia Berbahaya bisa terhindar dari Kecelakaan, Peledakan dan Penyakit akibat kerja.

Contoh Safety H2S

Peralatan Safety H2S:

1. Peralatan pernafasan yang dibagi menjadi 3:

· Unit Penyelamatan Diri (Escape Unit): ditempatkan dekat pengkalan kerja dan tempat akomodasi. Alat ini dirancang untuk memberikan persediaan udara yang cukup selama 5 hingga 10 menit yang dimaksudkan agar pekerja dapat melarikan diri dari daerah berbahaya.

· Unit untuk Bekerja (work line unit): alat ini dipakai untuk bekerja di udara yang beracun akibat gas H2S dan langsung membahayakan jiwa atau kasehatan.

· Unit penyelamatan (rescue unit): pemasangan alat bantu pernafasan berbentuk tabung udara yang berkapasitas udara 30 menit dan diletakkan di bahu pemakai.

Pemakai alat bantu pernapasan harus dilatih dengan cara memakai berbagai jenis peralatan untuk bernapas yang tersedia, sebab terjadi kesalahan pemakaian dapat mengakibatkan cacat yang serius atau kematian. Kacamata jangan dipakai dengan masker gas karena batang di pelipis akan mencegah penutupan masker. Rambut di wajah dapat menyebabkan muka tidak tertutup dengan rapat.

2. Penunjuk arah angin

Alat penunjuk arah angin harus ditempatkan pada lokasi yang mudah dilihat oleh seluruh pekerja. Papan tanda bahaya gas beracun H2S harus dipasang di beberapa tempat untuk peringatan bahwa di tempat tersebut memungkinkan adanya gas H2S.

3. Papan Petunjuk

Papan “dilarang merokok” dipasang pada tempat-tempat strategis di sekitar lokasi pemboran untuk mengurangi kemungkinan adanya penyalaan gas.

4. Bug blower fan

Untuk menghalau atau mengurangi konsentrasi gas H2S dari tempat operasi atau karja terutama bila angin bertiup kencang.

 

silahkan download materi lainnya:

makalah chemical safety

CS


KODE ETIK ENGINEER 2


Etik atau etika mempunyai pengertian sebagai baku perilaku yang diterima secara bersama sekelompok orang “peer” dalam organisasi (profesi) tertentu. Pelanggaran terhadap etika berakibat dikeluarkannya pelanggar dari organisasi. Etika tidak mudah diubah dan dirancang untuk jangka panjang. Sebagai engineer, kode etik ditetapkan oleh sebuah organisasi profesi yang terdiri atas sekumpulan engineer. Organisasi profesi biasanya mewakili suatu regional tertentu, seperti organisasi profesi se-Indonesia, organisasi profesi se-Asia-Pasifik, dan sebagainya.

 

Pelanggaran terhadap kode etik

a. pelanggaran terhadap perbuatan yang tidak mencerminkan respek terhadap nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi oleh profesi itu.

b. pelanggaran terhadap perbuatan pelayanan jasa profesi yang kurang mencerminkan kualitas keahlian yang sulit atau kurang dapat dipertanggung-jawabkan menurut standar maupun kriteria profesional.

Pengamalan dan Permasalahannya

* Proses penemuan dan pengembangan karya keinsinyuran tersebut apakah

sudah mengindahkan nilai-nilai (moral) kemanusiaan ataukah justru

mengabaikannya;

* Penerapan hasil karya keinsinyuran tersebut sebenarnya untuk apa, untuk

siapa, dan bagaimana cara pengoperasiannya?

4 (empat) prinsip etika dasar profesi keinsinyuran sebagai berikut :

a. menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk peningkatan kesejahteraan manusia;

b. bersikap jujur dan tidak memihak, dan melayani dengan kesetiaan masyarakat, mereka majikan dan klien;

c. berjuang untuk meningkatkan kompetensi dan prestise rekayasa
profesi;

d. mendukung masyarakat profesional dan teknis disiplin ilmu mereka

Organisasi engineer di Indonesia bernama Persatuan Insinyur Indonesia (PII). PII berdiri pada tanggal 23 Mei 1952 di Bandung. PII didirikan oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja dan Dr. Rooseno Soeryohadikoesoemo. PII memiliki jumlah anggota sekitar dua puluh ribu insinyur. Sebagai organisasi engineer di Indonesia, PII memiliki kode etik yang bernama Kode Etik Insinyur Indonesia “Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia”. Isi dari “Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia” adalah,

 

PERTAMA, PRINSIP-PRINSIP DASAR

1. Mengutamakan keluhuran budi.

2. 1. Menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia.

3. 2. Bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat, sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.

4. 3. Meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran.

 

KEDUA, TUJUH TUNTUTAN SIKAP

1. 1. Insinyur Indonesia senantiasa mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan Masyarakat.

2. 2. Insinyur Indonesia senantiasa bekerja sesuai dengan kempetensinya.

3. 3. Insinyur Indinesia hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggung jawabkan.

4. 4. Insinyur Indonesia senantiasa menghindari terjadinya pertentangan kepentingan dalam tanggung jawab tugasnya.

5. 5. Insinyur Indonesia senantiasa membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan masing-masing.

6. 6. Insinyur Indonesia senantiasa memegang teguh kehormatan, integritas dan martabat profesi.

7. 7. Insinyur Indonesia senantiasa mengembangkan kemampuan profesionalnya.

 

Download materi kode etik:

kode etik

pelanggaran terhadap kode etik

 


KODE ETIK ENGINEER 1


Pengertian Profesionalisme, Profesional dan Profesi Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan rasa keterpanggilan — serta ikrar (fateri/profiteri) untuk menerima panggilan tersebut — untuk dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan ditengah gelapnya kehidupan (Wignjosoebroto, 1999).

Dengan demikian seorang profesional jelas harus memiliki profesi tertentu yang diperoleh melalui sebuah proses pendidikan maupun pelatihan yang khusus, dan disamping itu pula ada unsur semangat pengabdian (panggilan profesi) didalam melaksanakan suatu kegiatan kerja. Hal ini perlu ditekankan benar untuk mem bedakannya dengan kerja biasa (occupation) yang semata bertujuan untuk mencari nafkah dan/ atau kekayaan materiil-duniawi Dua pendekatan untuk mejelaskan pengertian profesi:

1. Pendekatan berdasarkan Definisi Profesi merupakan kelompok lapangan kerja yang khusus melaksanakan kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi kebutuhan yang rumit dari manusia, di dalamnya pemakaian dengan cara yang benar akan ketrampilan dan keahlian tinggi, hanya dapat dicapai dengan dimilikinya penguasaan pengetahuan dengan ruang lingkup yang luas, mencakup sifat manusia, kecenderungan sejarah dan lingkungan hidupnya; serta adanya disiplin etika yang dikembangkan dan diterapkan oleh kelompok anggota yang menyandang profesi tersebut.

2. Pendekatan Berdasarkan Ciri Definisi di atas secara tersirat mensyaratkan pengetahuan formal menunjukkan adanya hubungan antara profesi dengan dunia pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan tinggi ini merupakan lembaga yang mengembangkan dan meneruskan pengetahuan profesional. Karena pandangan lain menganggap bahwa hingga sekarang tidak ada definisi yang yang memuaskan tentang profesi yang diperoleh dari buku maka digunakan pendekatan lain dengan menggunakan ciri profesi.

Secara umum ada 3 ciri yang disetujui oleh banyak penulis sebagai ciri sebuah profesi. Adapun ciri itu ialah:

- Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum memasuki sebuah profesi. Pelatihan ini dimulai sesudah seseorang memperoleh gelar sarjana. Sebagai contoh mereka yang telah lulus sarjana baru mengikuti pendidikan profesi seperti dokter, dokter gigi, psikologi, apoteker, farmasi, arsitektut untuk Indonesia. Di berbagai negara, pengacara diwajibkan menempuh ujian profesi sebelum memasuki profesi.

- Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang signifikan. Pelatihan tukang batu, tukang cukur, pengrajin meliputi ketrampilan fisik. Pelatihan akuntan, engineer, dokter meliputi komponen intelektual dan ketrampilan. Walaupun pada pelatihan dokter atau dokter gigi mencakup ketrampilan fisik tetap saja komponen intelektual yang dominan. Komponen intelektual merupakan karakteristik profesional yang bertugas utama memberikan nasehat dan bantuan menyangkut bidang keahliannya yang rata-rata tidak diketahui atau dipahami orang awam. Jadi memberikan konsultasi bukannya memberikan barang merupakan ciri profesi.

- Tenaga yang terlatih mampu memberikan jasa yang penting kepada masyarakat. Dengan kata lain profesi berorientasi memberikan jasa untuk kepentingan umum daripada kepentingan sendiri. Dokter, pengacara, guru, pustakawan, engineer, arsitek memberikan jasa yang penting agar masyarakat dapat berfungsi; hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh seorang pakar permainan caturmisalnya. Bertambahnya jumlah profesi dan profesional pada abad 20 terjadi karena ciri tersebut. Untuk dapat berfungsi maka masyarakat modern yang secara teknologis kompleks memerlukan aplikasi yang lebih besar akan pengetahuan khusus daripada masyarakat sederhana yang hidup pada abad-abad lampau. Produksi dan distribusi enersi memerlukan aktivitas oleh banyak engineers. Berjalannya pasar uang dan modal memerlukan tenaga akuntan, analis sekuritas, pengacara, konsultan bisnis dan keuangan. Singkatnya profesi memberikan jasa penting yang memerlukan pelatihan intelektual yang ekstensif.

Di samping ketiga syarat itu ciri profesi berikutnya. Ketiga ciri tambahan tersebut tidak berlaku bagi semua profesi. Adapun ketiga ciri tambahan tersebut ialah:

- Adanya proses lisensi atau sertifikat. Ciri ini lazim pada banyak profesi namun tidak selalu perlu untuk status profesional. Dokter diwajibkan memiliki sertifikat praktek sebelum diizinkan berpraktek. Namun pemberian lisensi atau sertifikat tidak selalu menjadikan sebuah pekerjaan menjadi profesi. Untuk mengemudi motor atau mobil semuanya harus memiliki lisensi, dikenal dengan nama surat izin mengemudi. Namun memiliki SIM tidak berarti menjadikan pemiliknya seorang pengemudi profesional. Banyak profesi tidak mengharuskan adanya lisensi resmi. Dosen di perguruan tinggi tidak diwajibkan memiliki lisensi atau akta namun mereka diwajibkan memiliki syarat pendidikan,

misalnya sedikit-dikitnya bergelar magister atau yang lebih tinggi. Banyak akuntan bukanlah Certified Public Accountant dan ilmuwan komputer tidak memiliki lisensi atau sertifikat.

- Adanya organisasi. Hampir semua profesi memiliki organisasi yang mengklaim mewakili anggotanya. Ada kalanya organisasi tidak selalu terbuka bagi anggota sebuah profesi dan seringkali ada organisasi tandingan. Organisasi profesi bertujuan memajukan profesi serta meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Peningkatan kesejahteraan anggotanya akan berarti organisasi profesi terlibat dalam mengamankan kepentingan ekonomis anggotanya. Sungguhpun demikian organisasi profesi semacam itu biasanya berbeda dengan serikat kerja yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya pada kepentingan ekonomi anggotanya. Maka hadirin tidak akan menjumpai organisasi pekerja tekstil atau bengkel yang berdemo menuntut disain mobil yang lebih aman atau konstruksi pabrik yang terdisain dengan baik.

- Otonomi dalam pekerjaannya. Profesi memiliki otonomi atas penyediaan jasanya. Di berbagai profesi, seseorang harus memiliki sertifikat yang sah sebelum mulai bekerja. Mencoba bekerja tanpa profesional atau menjadi profesional bagi diri sendiri dapat menyebabkan ketidakberhasilan. Bila pembaca mencoba menjadi dokter untuk diri sendiri maka hal tersebut tidak sepenuhnya akan berhasil karena tidak dapat menggunakan dan mengakses obat-obatan dan teknologi yang paling berguna. Banyak obat hanya dapat diperoleh melalui resep dokter. sepuluh ciri lain suatu profesi (Nana 1997) :

- Memiliki fungsi dan signifikasi sosial

- Memiliki keahlian/keterampilan tertentu

- Keahlian/keterampilan diperoleh dengan menggunakan teori dan metode ilmiah

- Didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas

- Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama

- Aplikasi dan sosialisasi nilai- nilai profesional

- Memiliki kode etik

- Kebebasan untuk memberikan judgement dalam memecahkan masalah dalam lingkup kerjanya

- Memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi

- Ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya.

Tiga Watak Profesional Lebih lanjut Wignjosoebroto [1999] menjabarkan profesionalisme dalam tiga watak kerja yang merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian “jasa profesi” (dan bukan okupasi) ialah

- bahwa kerja seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil;

- bahwa kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang, ekslusif dan berat;

- bahwa kerja seorang profesional — diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral — harus menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama didalam sebuah organisasi profesi.

Ketiga watak kerja tersebut mencoba menempatkan kaum profesional (kelompok sosial berkeahlian) untuk tetap mempertahankan idealisme yang menyatakan bahwa keahlian profesi yang dikuasai bukanlah komoditas yang hendak diperjual-belikan sekedar untuk memperoleh nafkah, melainkan suatu kebajikan yang hendak diabdikan demi kesejahteraan umat manusia.

Kalau didalam peng-amal-an profesi yang diberikan ternyata ada semacam imbalan (honorarium) yang diterimakan, maka hal itu semata hanya sekedar “tanda kehormatan” (honour) demi tegaknya kehormatan profesi, yang jelas akan berbeda nilainya dengan pemberian upah yang hanya pantas diterimakan bagi para pekerja upahan saja.

Siapakah atau kelompok sosial berkeahlian yang manakah yang bisa diklasifikasikan sebagai kaum profesional yang seharusnya memiliki kesadaran akan nilai-nilai kehormatan profesi dan statusnya yang sangat elitis itu? Apakah dalam hal ini profesi keinsinyuran bisa juga diklasifikasikan sebagai bagian dari kelompok ini? Jawaban terhadap kedua pertanyaan ini bisa mudah-sederhana, tetapi juga bisa sulit untuk dijawab. Terlebih-lebih bila dikaitkan dengan berbagai macam persoalan, praktek nyata, maupun penyimpangan yang banyak kita jumpai didalam aplikasi pengamalan profesi

di lapangan yang jauh dari idealisme pengabdian dan tegak nya kehormatan diri (profesi). Pada awal pertumbuhan “paham” profesionalisme, para dokter dan guru — khususnya mereka yang banyak bergelut dalam ruang lingkup kegiatan yang lazim dikerjakan oleh kaum padri maupun juru dakhwah agama — dengan jelas serta tanpa ragu memproklamirkan diri masuk kedalam golongan kaum profesional. Kaum profesional (dokter, guru dan kemudian diikuti dengan banyak profesi lainnya) terus berupaya menjejaskan nilai-nilai kebajikan yang mereka junjung tinggi dan direalisasikan melalui keahlian serta kepakaran yang dikembangkan dengan berdasarkan wawasan keunggulan.

Sementara itu pula, kaum profesional secara sadar mencoba menghimpun dirinya dalam sebuah organisasi profesi (yang cenderung dirancang secara eksklusif) yang memiliki visi dan misi untuk menjaga tegaknya kehormatan profesi, mengontrol praktek-praktek pengamalan dan pengembangan kualitas keahlian/ kepakaran, serta menjaga dipatuhinya kode etik profesi yang telah disepakati bersama.

Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma.

Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, noprma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan,norma agama berasal dari agama sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika.

Etika dan etiket, Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Dalam bahasa Inggeris dikenal sebagai ethics dan etiquette.

Antara etika dengan etiket terdapat persamaan yaitu:

(a) etika dan etiket menyangkut perilaku manusia. Istilah tersebut dipakai mengenai manusia tidak mengenai binatang karena binatang tidak mengenal etika maupun etiket.

(b) Kedua-duanya mengatur perilaku manusia secara normatif artinya memberi norma bagi perilaku manusia dan dengan demikian menyatakan apa yag harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilkukan. Justru karena sifatnya normatif maka kedua istilah tersebut sering dicampuradukkan.

Adapun perbedaan antara etika dengan etiket ialah:

(a) etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu. Misalnya dalam makan, etiketnya ialah orang tua didahulukan mengambil nasi, kalau sudah selesai tidak boleh mencuci tangan terlebih dahulu. Di Indonesia menyerahkan sesuatu harus dengan tangan kanan. Bila dilanggar dianggap melanggar etiket. Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.

(b) Etiket hanya berlaku untuk pergaulan. Bila tidak ada orang lain atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Misalnya etiket tentang cara makan. Makan sambil menaruh kaki di atas meja dianggap melanggar etiket dila dilakukan bersama-sama orang lain. Bila dilakukan sendiri maka hal tersebut tidak melanggar etiket. Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.

(c) Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain. Contohnya makan dengan tangan, bersenggak sesudah makan. Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.

(d) Etiket hanya memadang manusia dari segi lahirian saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.

Etika dan ajaran moral

Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia.

Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya).

Fungsi etika

Etika tidak langsung membuat manusia menjadi lebih baik, itu ajaran moral, melainkan etika merupakan sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan pelbagai moralitas yang membingungkan.

Etika ingin menampilkan ketrampilan intelektual yaitu ketrampilan untuk berargumentasi secara rasional dan kritis. Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam suasana pluralisme. Pluralisme moral diperlukan karena:

(a) pandangan moral yang berbeda-beda karena adanya perbedaan suku, daerah budaya dan agama yang hidup berdampingan;

(b) modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang pandangan moral tradisional;

(c) berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan, masing-masing dengan ajarannya sendiri tentang bagaimana manusia harus hidup.

Etika secara umum dapat dibagi menjadi etika umum yang berisi prinsip serta moral dasar dan etika khusus atau etika terapan yang berlaku khusus. Etika khusus ini masih dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial. Etika sosial dibagi menjadi:

(1) Sikap terhadap sesama;

(2) Etika keluarga

(3) Etika profesi misalnya etika untuk pustakawan, arsiparis, dokumentalis, pialang informasi

(4) Etika politik

(5) Etika lingkungan hidup serta

(6) Kritik ideologi Etika adalah filsafat atau pemikiran kritis rasional tentang ajaran moral sedangka moral adalah ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dsb. Etika selalu dikaitkan dengan moral serta harus dipahami perbedaan antara etika dengan moralitas.

Moralitas

Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia. Norma moral adalah tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara kebaikan moral dan kebaikan pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikan manusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja, misalnya sebagai suami atau isteri, sebagai pustakawan.

Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adala sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber.

Etika dan moralitas

Etika bukan sumber tambahan moralitas melainkan merupakan filsafat yang mereflesikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai lima ciri khas yaitu rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif. Rasional berarti mendasarkan diri pada rasio atau nalar, pada argumentasi yang bersedia untuk dipersoalkan tanpa perkecualian. Kritis berarti filsafat ingin mengerti sebuah masalah sampai ke akar-akarnya, tidak puas dengan pengertian dangkal. Sistematis artinya membahas langkah demi langkah. Normatif menyelidiki bagaimana pandangan moral yang seharusnya.

Etika dan agama

Etika tidak dapat menggantikan agama. Orang yang percaya menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Agama merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral. Pemeluk agama menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi agama itu memerlukan ketrampilan etika agar dapat memberikan orientasi, bukan sekadar indoktrinasi. Hal ini disebabkan empat alasan sebagai berikut:

(1) Orang agama mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, tetapu ia juga ingin mengertimengapa Tuhan memerintahkannya. Etika dapat membantu menggali rasionalitas agama.

(2) Seringkali ajaran moral yang termuat dalam wahyu mengizinkan interpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan.

(3) Karena perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat maka agama menghadapi masalah moral yang secara langsung tidak disinggung-singgung dalam wahyu. Misalnya bayi tabung, reproduksi manusia dengan gen yang sama.

(4) Adanya perbedaan antara etika dan ajaran moral. Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata-mata sedangkan agama pada wahyunya sendiri. Oleh karena

(5) itu ajaran agama hanya terbuka pada mereka yang mengakuinya sedangkan etika terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan pandangan dunia.

Istilah berkaitan Kata etika sering dirancukan dengan istilah etiket, etis, ethos, iktikad dan kode etik atau kode etika. Etika adalah ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk. Etiket adalah ajaran sopan santun yang berlaku bila manusia bergaul atau berkelompok dengan manusia lain. Etiket tidak berlaku bila seorang manusia hidup sendiri misalnya hidup di sebuah pulau terpencil atau di tengah hutan. Etis artinya sesuai dengan ajaran moral, misalnya tidak etis menanyakan usia pada seorang wanita. Ethos artinya sikap dasar seseorang dalam bidang tertentu. Maka ada ungkapa ethos kerja artinya sikap dasar seseorang dalam pekerjaannya, misalnya ethos kerja yang tinggi artinya dia menaruh sikap dasar yang tinggi terhadap pekerjaannya. Kode atika atau kode etik artinya daftar kewajiban dalam menjalankan tugas sebuah profesi yang disusun oleh anggota profesi dan mengikat anggota dalam menjalankan tugasnya.

Etika terbagi atas 2 bidang besar yaitu etika umum dan etika khusus. Etika umum masih dibagi lagi menjadi prinsip dan moral dasar etika umum. Adapun etika khusus merupakan terapan etika, dibagi lagi menjadi etika individual dan etika sosial. Etika sosial yang hanya berlaku bagi kelompok profesi tertentu disebut kode etika atau kode etik.

Kode etik

Kode etik adalah sistem norma, nilai dan aturan profesional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik dan apa yang tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Kode etik menyatakan perbuatan apa yang benar atau salah, perbuatan apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari.

Tujuan kode etik agar profesional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau nasabahnya. Adanya kode etik akan melindungi perbuatan yang tidak profesional.

Ketaatan tenaga profesional terhadap kode etik merupakan ketaatan naluriah yang telah bersatu dengan pikiran, jiwa dan perilaku tenaga profesional. Jadi ketaatan itu terbentuk dari masing-masing orang bukan karena paksaan. Dengan demikian tenaga profesional merasa bila dia melanggar kode etiknya sendiri maka profesinya akan rusak dan yang rugi adalah dia sendiri.

Kode etik bukan merupakan kode yang kaku karena akibat perkembangan zaman maka kode etik mungkin menjadi usang atau sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Misalnya kode etik tentang euthanasia (mati atas kehendak sendiri), dahulu belum tercantum dalam kode etik kedokteran kini sudah dicantumkan.

Kode etik disusun oleh organisasi profesi sehingga masing-masing profesi memiliki kode etik tersendiri. Misalnya kode etik dokter, guru, pustakawan, pengacara, Pelanggaran kde etik tidak diadili oleh pengadilan karena melanggar kode etik tidak selalu berarti melanggar hukum. Sebagai contoh untuk Ikatan Dokter Indonesia terdapat Kode Etik Kedokteran. Bila seorang dokter dianggap melanggar kode etik tersebut, maka dia akan diperiksa oleh Majelis Kode Etik Kedokteran Indonesia, bukannya oleh pengadilan.

Sifat kode etik profesional

Kode etik adalah pernyataan cita-cita dan peraturan pelaksanaan pekerjaan (yang membedakannya dari murni pribadi) yang merupakan panduan yang dilaksanakan oleh anggota kelompok. Kode etik yang hidup dapat dikatakan sebagai ciri utama keberadaan sebuah profesi.Sifat dan orientasi kode etik hendaknya singkat; sederhana, jelas dan konsisten; masuk akal, dapat diterima, praktis dan dapat dilaksanakan; komprehensif dan lengkap; dan positif dalam formulasinya.

Orientasi kode etik hendaknya ditujukan kepada rekan, profesi, badan, nasabah/pemakai, negara dan masyarakat. Kode etik diciptakan untuk manfaat masyarakat dan bersifat di atas sifat ketamakan penghasilan, kekuasaan dan status.

Etika yang berhubungan dengan nasabah hendaknya jelas menyatakan kesetiaan pada badan yang mempekerjakan profesional. Kode etik digawai sebagai bimbingan praktisi. Namun demikian hendaknya diungkapkan sedemikian rupa sehingga publik dapat memahami isi kode etik tersebut. Dengan demikian masyarakat memahami fungsi kemasyarakatan dari profesi tersebut. Juga sifat utama profesi perlu disusun terlebih dahulu sebelum membuat kode etik. Kode etik hendaknya cocok untuk kerja keras Sebuah kode etik menunjukkan penerimaan profesi atas tanggung jawab dan kepercayaan masyarakat yang telah memberikannya.

 

download slide:

kode etik engineer


OPEN ENDEEN PROBLEM


A. DEFINISI OPEN ENDED PROBLEM

Menurut (Suherman, 2003), problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut dengan problem tak lengkap atau disebut juga dengan Open Ended Problem.

Open ended problem memiliki tujuan utama yaitu menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. Dengan demikian tidak hanya satu metode saja melainkan beberapa atau banyak metode yang dapat digunakan.

Menurut Nohda (Suherman, 2003), tujuan dari pembelajaran open ended problem ialah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa melalui problem solving secara simultan.

Dengan kata lain, kegiatan kreatif dan pola pikir matematik siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai kemampuan setiap siswa.

Satu permasalahan open ended dikerjakan dengan menggunakan banyak cara yang benar dan memberikan pengalaman untuk menemukan sesuatu yang baru selama proses pemecahan masalah.

B. PENDEKATAN OPEN ENDED PROBLEM

Pada prinsipnya pendekatan open-ended sama dengan pembelajaran berbasis masalah yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang dalam prosesnya dimulai dengan memberi suatu masalah. Hal ini sesuai dengan pendapat Shimada (1997:1) pendekatan open-ended adalah pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang benar lebih dari satu. Pendekatan open-ended dapat memberi kesempatan kepada seseorang untuk memperoleh pengetahuan/ pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beberapa teknik. Namun, pada pendekatan open-ended masalah yang diberikan adalah masalah yang bersifat terbuka (open-ended problem) atau masalah tidak lengkapn (incomplete problem). Sedangkan dasar keterbukaan masalah diklasifikasikan dalam tiga tipe, yakni:

(a) prosesnya terbuka, maksudnya masalah itu memiliki banyak cara

penyelesaian yang benar

(b) hasil akhirnya terbuka, maksudnya masalah itu memiliki banyak jawaban

yang benar

(c) cara pengembangan lanjutannya terbuka, maksudnya ketika seseorang

telah menyelesaikan masalahnya, mereka dapat mengembangkan masalah baru yaitu dengan cara merubah kondisi masalah sebelumnya (asli).

Tujuan dari pembelajaran dengan pendekatan open-ended adalah, diharapkan dapat mengembangkan ide-ide kreatif dan pola pikir matematis. Dengan diberikan masalah yang bersifat terbuka, terlatih untuk melakukan investigasi berbagai strategi dalam menyelesaikan masalah. Selain itu seseorang akan memahami bahwa proses penyelesaian suatu masalah sama pentingnya dengan hasil akhir yang diperoleh. Berdasarkan pengertian dan tujuan pembelajaran dengan pendekatan open-ended di atas, perlu digarisbawahi bahwa pendekatan open-ended memberi kesempatan kepada seseorang untuk berpikir bebas sesuai dengan minat dan kemampuannya. Dengan demikian kemampuan berpikir matematis dapat berkembang secara maksimal dan

kegiatan-kegiatan kreatif dapat terkomunikasikan melalui proses pembelajaran.

C. KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN OPEN ENDED PROBLEM

Keunggulan pendekatan open ended problem menurut Suherman 2003 antara lain :

1. Aktif dalam pembelajaran

2. Memiliki kesempatan dalam memanfaatkan pengetahuan & ketrampilan

secara komprehensif

3. Secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti

4. Memiliki pengalaman untuk menemukan sesuatu dalam menjawab

permasalahan

Kelemahan pendekatan open ended problem antara lain (Suherman, 2003) :

1. Mengemukakan masalah secara langsung lebih sulit sehingga respon juga

sulit.

2. Seseorang dengan kemampuan tinggi terkadang ragu pada jawabannya

sendiri.

3. Kesulitan mengemukakan masalah membuat kejenuhan tersendiri.

D. PERTANYAAN OPEN ENDED PROBLEM

Dalam proses pembelajaran dengan pendekatan open-ended, biasanya lebih banyak digunakan soal-soal open-ended sebagai instrumen dalam pembelajaran. Terdapat keserupaan terhadap pengertian mengenai soal open-ended.

Hancock (1995 : 496) dan Berenson (1995:183) menyatakan bahwa soal open-ended adalah soal yang memiliki lebih dari satu penyelesaian dan cara penyelesaian yang benar. Dengan demikian ciri terpenting dari soal open-ended adalah tersedianya kemungkinan dapat serta tersedia keleluasaan bagi seseorang untuk memakai sejumlah metode yang dianggapnya paling sesuai dalam menyelesaikan soal itu. Dalam arti, pertanyaan pada bentuk open-ended diarahkan untuk menggiring tumbuhnya pemahaman atas masalah yang diajukan.

Di dalam menyusun suatu pertanyaan open ended ada dua teknik yang dapat dilakukan :

1. Teknik bekerja secara terbalik (working backward)

Teknik ini terdiri dari tiga langkah, yaitu:

a. mengidentifikasi topik

b. memikirkan pertanyaan dan menuliskan jawaban lebih dulu

c. membuat pertanyaan open-ended didasarkan pada jawaban yang telah

dibuat

2. Teknik penggunaan pertanyaan standar (adapting a standard question) Teknik ini juga terdiri dari tiga langkah yaitu:

a. mengidentifikasi topik

b. memikirkan pertanyaan standar

c. membuat pertanyaan open-ended yang baik berdasarkan pertanyaan

standar yang telah dibuat.

Tingkat berpikir matematika untuk menyusun pertanyaan open-ended sebaiknya disesuaikan dengan tingkat berpikir Matematika. Tingkat berpikir yang dikemukakan oleh Bloom yang dikenal dengan taksonomi Bloom (Bloom, 1956) mengklasifikasikan tingkat berpikir kedalam enam tingkat, yaitu: Memory, Comprehension, Application, Analysis, Synthesis and Evaluation. Sedangkan Sanders (dalam Way, 2003) level Comprehension dibagi kedalam dua katagori yaitu: Translation dan Interpretation, sehingga tingkatan berpikir yang digunakan dalam matematika menjadi tujuh level

seperti berikut:

1. Memory atau sering disebut juga pengetahuan (knowledge) atau ingatan

(recall) atau komputasi (computation). Pada jenjang ini seseorang dituntut untuk mampu menggali atau mengingat kembali (memory) pengetahuan

yang telah disimpan di dalam skemata struktur kognitifnya. Hal-hal yang termasuk ke dalam jenjang kognitif ini adalah berupa pengetahuan tentang fakta dasar, terminologi (peristilahan), atau manipulasi yang sifatnya sudah rutin (algoritma)

2. Translation: Kemampuan seseorang untuk merubah informasi kedalam

simbol atau bahasa yang berbeda.

3. Interpretation: Kemampuan seseorang untuk mencari hubungan antara fakta, konsep, prinsip, aturan, dan generalisasi.

4. Application: Kemampuan untuk memilih, menggunakan, dan menerapkan dengan tepat suatu teori atau cara pada situasi baru. Tahap aplikasi ini melibatkan sejumlah respon. Respon tersebut ditransfer kedalam situasi baru yang berarti konteksnya berlainan. Bloom,dkk. membagi kedalam empat bagian, yaitu: Kemampuan untuk menyelesaikan masalah rutin; Kemampuan untuk membandingkan; Kemampuan untuk menganalisis data, dan kemampuan untuk mengenal pola, isomorfisma dan simetri.

5. Analysis: Kemampuan untuk merinci atau menguraikan suatu masalah (soal) menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (komponen) serta mampu untuk memahami hubungan diantara bagian-bagian tersebut. Kemampuan siswa untuk memecahkan masalah nonrutin termasuk kedalam jenjang ini,

yaitu kemampuan untuk mentransfer pengetahuan matematika yang telah dipelajari terhadap konteks baru. Pemecahan masalah bisa berupa menguraikan suatu masalah menjadi bagian-bagian satu kesatuan kemudian mengkaji, serta menyusun kembali bagian-bagian tersebut menjadi suatu kesatuan sehingga merupakan penyelesaian akhir. Tahap

analisis ini dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: Analisis terhadap elemen, analisis terhadap hubungan dan analisis terhadap aturan.

6. Synthesis: Kemampuan berpikir yang merupakan kebalikan dari suatu proses analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logik sehingga menjadi sutu pola terstruktur atau bentuk baru. Kemampuan untuk menemukan hubungan, kemampuan menyususn pembuktian, dan kemampuan berpikir kreatif termasuk kemampuan synthesis (Way, 2003).

7. Evaluation: Kemampuan seseorang untuk dapat memberikan pertimbangan (judgement) terhadap suatu situasi, ide, metode berdasarkan suatu patokan atau kriteria. Kemudian setelah memberikan pertimbangan dengan matang dilanjutkan dengan memberikan suatu kesimpulan.

 

download makalah:

etiprof

makalah


KIAT KIAT MENJADI ORANG SUKSES DAN MULIA


Beribadah dengan cara yang benar

Jika hidup tanpa ibadah yang benar ibarat hidup tanpa pondasi, bangunan tanpa pondasi akan roboh dengan ibadah yang benar Insya Allah akan mebuat kita semakin tawadhu dan kokoh kepada Allah

 

>Berakhlak baik

Ibadah bagus siang malam, tapi selesai sholat mulut kotor, tidak jujur, apalah artinya ibadah, kalau tidak di barengi akhlak baik maka perlu 5S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan & Santun ) Pemimpin adalah TELADAN kalau memimpin dan mengatur diri sendiri tidak mampu bagaimana mungkin kita bias mengatur dan memimpin orang lain, BUKTIKAN!!!!!!!!

 

>Belajar tiada henti

Akhlak sudah baik, ibadah bagus tapi itu tidak cukup karena masalah akan bertambah, potensi konflik bertambah, kebutuhan semua bertambah, bagaimana mungkin menyikapi segala yang makin ruwet dengan ilmu yang tidak bertambah. Ciri sukses adalah orang-orang yang cinta ilmu dengan belajar. Kesuksesan hari ini tidak berarti besok kita akan meraih sukses lagi tanpa kesiapan diri dan berjuang lebih keras, maka sukses akan sulit dipertahankan!!!!

>Bekerja dengan 5 AS

o Kerja Keras,

o Kerja Cerdas,

o Kerja Kualitas,

o Kerja Tuntas,

o Kerja Ikhlas.

Yang harus menjadi standar ada pada diri kita adalah bekerja optimal dengan pemikiran yang cerdas karena ada yang kerja keras tetapi akal tidak digunakan akibatnya cuma jadi pekerja keras saja.

 

>Bersahaja dalam hidup

Ada orang yang bekerja keras tetapi sia-sia, karena ditipu oleh keborosan, bermegah-megah, diperdaya, dikutuk oleh orang lain, dan menjadi kedengkian. Kenapa??????karena tidak tidak bersahaja, padahal akibat gemar bersahaja maka kemampuan keuangan kita lebih tinggi diatas kebutuhan sehingga bisa menyimpan uang bersodaqoh, dan berinvestasi, budaya masyarakat kita diharapkan bukan budaya punya barang, tapi budaya berinvestasi akibatnya selalu punya nilai tambah.

 

>Bantu Sesama

Alat ukur sukses kita setelah bersahaja adalah punya kelebihan untuk memajukan orang-orang yang benar-benar tidak mampu dengan memberi bantuan seperti Sembako, dll. Kesuksesan kita mulai diukur dengan kemampuan membantu orang lain, membuat lapangan kerja sebanyak mungkin, sehingga orang lain lebih maju lagi dengan mempunyai tata nilai yang sama dengan kita. Ibadah yang bagus, akhlak yang bagus, terus berusaha untuk belajar menambah ilmu, bekerja keras dengan saling tolong menolong.

 

>Bersihkan hati selalu

Mengapa?????Allah tidak menerima amal, kecuali ikhlas jangan merasa ujub, dengan tidak merasa berjasa, dengan tidak merasa paling bisa, dengan tidak merasa paling mulia, tetapi semuanya karena Allah. Alhamdulillah!!!!!!!! Semua ini adalah karunia Allah kita harus merasa beruntung karena dijadikan jalan; Jalan rezeki bagi tetangga, jalan ilmu bagi semua orang, jalan kesuksesan bagi semuanya Allahlah yang memberi. Inilah orang yang akan sukses, karena dia tidak menjadi sombong apalah artinya kita mendapatkan banyak hal kalau kita tidak mendapat ridlo dari Allah karena kesombongan kita. Dengan cara beribadah yang benar, membuat kita semakin tawadhu, kokoh mengadbi kepada Allah, hati tentram….


pemilihan reaktor


Reaktor pada prinsipnya dibagi menjadi 3 jenis utama, yaitu :

1. Batch Reaktor : Umumnya digunakan untuk reaksi dengan waktu reaksi yang sangat lama, menggunakan mikrobia, dan atau kapasitas produksi kecil atau musiman.

2. Tubular Reactor : Tubular Reactor ada bermacam macam,antara lain adalah :

a. Reaktor Alir Pipa: Biasanya berupa gas-gas,caifr-cair dimana reaksi tidak menimbulkan panas yang terlalu tinggi. Reaktor memiliki alran plugflow yang optimal untuk kecepatan reaksi tetapi cukup sulit untuk alat transfer panasnya.
b. Reaktor Pipa Shell And Tube : Seperti reaktor pipa di atas tetapi berupa beberapa pipa yang disusun dalam sebuah shell, reaksi berjalan di dalam pipa pipa dan pemanas/pendingin di shell. Alat ini digunakan apabila dibutuhkan sistem transfer panas dalam reaktor. Suhu dan konversi tidak homogen di semua titik.
c. Fixed Bed : Reaktor berbentuk pipa besar yang didalamnya berisi katalisator padat. Bisanya digunakan untuk reaksi fasa gas dengan katalisator padat. Apabila diperlukan proses transfer panas yang cukup besar biasanya berbentuk fixed bed multitube, dimana reaktan bereaksi di dalam tube2 berisi katalisator dan pemanas/pendingin mengalir di luar tube di dalam shell.
d. Fluidized bed reaktor : Biasanya digunakan untuk reaksi fasa gas katalisator padat dengan umur katalisator yang sangat pendek sehingga harus cepat diregenerasi.Atau padatan dalam reaktor adalah merupakan reaktan yang bereaksi menjadi produk.

3. RATB ( Reaktor Alifr Tangki Berpengaduk )

RATB adalah reaktor kontinyu yang berupa tangki berpengaduk, pola aliran adalah mixed flow, sehingga bisa diasumsikan konsentrasi, konversi, dan suhu di semua titik dalam reaktor adalah homogen. Ada beberapa jenis reaktor RATB Sehingga pada reaktor ini suhu bisa dianggap isotermal:

a. RATB biasa, digunakan untuk sistem cair-cair, dimana reaktan adalah fasa cair, dan bila ada katalisator juga cair.
b. Reaktor Gelembung: Reaktor untuk mereaksikan sistem gas cair, dimana gas di umpankan dengan sparger dari bawah dan cairan dari atas secara kontinyu.
c. Slurry Reactor : Reaktor yang mereaksikan cairan dan padatan, baik padatan sebagai katalisator ataupun reaktan, dengan pengadukan.

Untuk RATB dapat disusun seri 3-5 buah untuk mendapatkan pola aliran similar dengan plugflow, dan dapat dipasang pendingin/pemanas baik jacket maupun koil untuk menjaga suhu konstan.

Mungkin masih banyak yang lain. untuk jelasnya baca saja Wallas, 1984.


CHE Around Us: Sabun


Dalam kemajuan jaman yang sangat pesat ini, kita sebagai masyarakat yang terlibat di dalamnya harus peka dan mengerti akan fenomena-fenomena kimia sederhana yang terjadi di sekitar kita karena hal tersebut dapat menjadi batu loncatan untuk menciptakan kreasi dan inovasi di masa mendatang. Banyak orang awam kurang memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal kecil atau bahkan tidak peduli akan fenomena yang sering terjadi dalam keseharian mereka. Salah satu contoh sederhana yang dapat kita tinjau ialah mencuci tangan. Berapa kali sehari teman-teman mencuci tangan? 3 kali? 5 kali? 10 kali? Banyak di antara kita yang tidak mengerti bagaimana sabun dalam media air dapat membersihkan tangan kita dari minyak yang menempel di tangan.
Sabun, Lemak, dan Air

Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun, dan air. Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lemak. Untuk mempermudah penjelasan, mari kita tinjau minyak goreng sebagai contoh. Minyak goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam miristat, asam palmitat, asam laurat, dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak goreng adalah asam oleat, asam linoleat, dan asam linolena. Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6).

 

Struktur Asam Laurat

 

Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol. Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat.

Reaksi saponifikasi dan struktur dasar senyawa sabun yang dihasilkan ialah sebagai berikut:

Seperti yang kita ketahui, air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O, yaitu molekul yang tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Air sering disebut sebagai pelarut universal karena air melarutkan banyak zat kimia. Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air.

Mengapa minyak dapat larut dengan bantuan sabun dalam media air?

Dari penjelasan di atas, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mudah. Fenomena tersebut tidak lepas dari gaya tarik menarik molekul. Gaya tarik antara dua molekul polar ( gaya tarik dipol-dipol) menyebabkan larutan polar larut dalam larutan polar. Molekul polar mempunyai dipol yang permanen sehingga menginduksi awan elektron non polar sehingga terbentuk dipol terinduksi, maka larutan nonpolar dapat larut dalam non polar. Hal tersebut dapat menjelaskan proses yang terjadi saat kita mencuci tangan. Saat pencucian tangan, air yang merupakan senyawa polar menginduksi awan elektron sabun sehingga dapat membantu larutnya asam lemak yang juga merupakan senyawa non polar. Maka dari itu, bila kita mencuci tangan dengan menggunkan sabun, lemak yang menempel pada tangan akan melarut bersama sabun dengan bantuan air.

“So, what? Gua gak peduli tuh mo ada awan elektron kek atau awan hujan kek.. yang penting tangan gua bersih..”

Mungkin mudah bagi kita untuk berkata seperti itu sekarang. Tapi cobalah teman-teman bayangkan. Anggaplah teman-teman sedang bekerja di bagian R&D sebuah perusahaan consumer goods seperti misalnya Unilever, P&G, atau L’oreal. Suatu hari sang R&D Manager menugaskan teman-teman untuk menemukan formula sabun baru yang efektif dan handal. Bagaimana teman-teman bisa memikirkan sebuah inovasi apabila teman-teman tidak mengerti bagaimana cara kerja dasar sebuah sabun?

Tingkatkan awareness teman-teman terhadap fenomena-fenomena kimia yang terjadi di sekitar kita mulai dari sekarang karena ilmu dasar tersebut hanya dapat kita dapatkan saat kuliah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 137 pengikut lainnya.