Welcome to Radiks Chemical Enginnering information

Arsip Penulis

CRYSTALLIZER PART II


Jenis Crystallizer Tanpa Circulating Magma

  1. Jacketed Pipe Scraped Crystallizer

Crystallizer jenis ini berbentuk balok yang panjang yang didalamnya terdapat piringan yang berlekuk-lekuk yang dapat berputar karena adanya poros atau pulley pada ujungnya.

jacket pipe

 Gambar 1. Jacketed Pipe Scraped Crystallizer

Umumnya dibuat dari dengan pipa dalam 6 – 12 inchi sebagai diameter dan panjangnya sekitar 20 – 40 feet, yang disusun  seri dalam sambungan dengan 3 buah atau lebih. Piringan yang berlekuk tersebut dinamakan dengan Scraper Blades yang berputar dengan kecepatan 15 sampai 30 rpm. Suhu operasi yang dapat dijalankan sekitar -75 sampai 1000F. Dan dapat juga digunakan pada cairan yang memiliki viskositas lebih dari 10000 cp. Prinsip kerjanya ialah plug flow, dimana cairan induk masuk dari bagian atas samping kanan, lama kelamaan akan membentuk kristal didalam pipa tersebut dan kristal akan mengendap dibawah dan menempel didinding pipa, yang nantinya scaper blades akan mengambil kristal-kristal tersebut. Ukuran kristal yang dihasilkan akan seragam, umumnya besar-besar. Namun, pertumbuhan untuk kristal sangat kecil, hal ini disebabkan jarak antar sambungan seri yang terdapat scraper blades mungkin terlalu jauh. Kapasitas yang ditentukan oleh koefisien perpindahan panas sebesar 10 -25 Btu/hr ft2 0F umunya dapat tercapai. Namun untuk mendapatkan nilai koefisien perpindahan panas yang lebih tinggi, kita dapat mengubah bentuk dari scraper blades maupun pergerakannya.

      2. Scraped Surface Crystallizer

Contoh crystallizer jenis ini ialah tipe Swenson-Walker cystallizer. Berupa saluran pipa yang dilapisi dengan jacket pendingin. Jenis ini berupa saluran denagn ukuran 24 inchi untuk lebar, panjang 10 feet, tinggi 26 inchi. Terdiri dari 4 atau lebih gabungan crystallizer. Seperti jenis crystallizer yang sebelumnya, bahwa kapasitasnya sangat dipengaruhi oleh koefisien perpindahan panas sekitar 10 -25 Btu/hr ft2 0F dengan luas penampang yang sediakan 3 ft2/ft panjangnya. Untuk 40 ft panjangnya dapat menghasilkan 15 ton/hari trisodium pospat dan untuk 50 ft panjangnya dapat menghasilkan 8 ton/hari garam Glaubers.

scraped sur

Gambar 2. Scraped Surface Crystallizer

Kristal yang terbentuk akan menempel didinding pipa tersebut akan diambil dengan scraper blades lalu akan dikeluarkan pada salah satu ujungnya. Dimana scraper blades digerakkan oleh pulley pada salah satu ujungnya.

 

3.   Batch Stirred Tank With Internal Cooling Coil

Crystallizer jenis ini dapat divariasikan terutama pada bagian badan crystallizer yang dapat digunakan pengaduk atau tanpa pengaduk. Umumnya bila dilengkapi dengan pengaduk waktu yang diperlukan untuk menghasilkan kristal akan lebih cepat bila dibandingkan dengan tanpa pengaduk. Koefisien perpidaan panas yang terjadi sebesar 50 -200 Btu/hr ft2 0F, namun perbedaan temperature yang diperbolehkan untuk mendapatkan keadaan lewat jenuh ialah sebesar 5 – 100F.

batch stirred

Gambar 3. Batch Stirred Crystallizer Tank with Internal Cooling

Jenis crystallizer ini termasuk jenis yang batch, artinya tidak ada alitan keluar setiap waktunya. Tangki crystallizer diisi lalu diambil hasilnya pada waktu tertentu. Jenis ini dapat digunakan untuk proses yang continous dengan dilengkapi pengaduk. Umumnya jenis ini memiliki tutup yang berbentuk torispherical dimana umpan atau cairan induk masuk dari atas dan masuk kedalam tangki untuk didinginkan. Medium pendingin digunakan koil yang berada didalam tangki crystallizer tersebut, sehingga efisiensi perpindahan panas cukup tinggi. Karena kontak antar cairan dengan medium pendingin cukup luas. Disamping itu, bila digunakan pengaduk pembentuk kristal terutama pada secondary nucleation akan lebih besar bila dibandingkan dengan tanpa pengaduk.

 

4.  Direct Contact Refrigeration Crystallizer

Seperti pada beberapa aplikasi pendinginan air laut menjadi es pada suhu yang rendah dengan menggunakan refrigerant merupakan solusi yang ekonomis. Umunya bila kita ingin menciptakan permukaan yang dingin atau cukup dingin pada sebuah HE agak sulit karena perbedaan temperaturnya harus sangat kecil (dibawah 30F), sehingga HE didesain dengan sebaik-baiknya terutama luas permukaannya yang dapat memindahkan sejumlah panas yang kita inginkan. Apalagi bila cairannya cukup kental, agak sulit untuk mencipatkan perbedaan suhu yang sangat kecil tersebut. Untuk mengatasinya dapat digunakan bahan pendingin yaitu zat  refrigerant.

direct contact

 Gambar 4. Direct Contact Refrigeration Crystallizer

Prinsip kerja dari crystallizer jenis ini ialah dengan adanya pendinginan dari refrigerant yang digunakan. Umpan berupa cairan induk dimasukkan kebadan crystallizer dengan suhu yang lebih tinggi dari suhu yang refrigerant (suhu cair refrigerant minus). Karena titik didih dari refrigerant sangat kecil atau jauh dibawah suhu cairan induk, maka ada perpindahan panas dari cairan induk menuju refrigerant, dimana akan mengakibatkan suhu refrigerant akan naik dan menguap untuk mendinginkan cairan induk, sampai cairan induk berada pada keadaan lewat jenuhnya. Penggunaan refrigerant ini medium pendingin sangatlah efektif, karena apabila digunakan HE dengan media refrigerant sebagai pendingin, perbedaan suhu yang dihasilkan akan sangat kecil, ditambah dengan resiko-resiko lain dari sifat refrigerant itu sendiri. Didalam badan crystallizer antara refrigerant dan cairan induk akan berkontak, namun sifat dari refrigerant yang immiscible, tidak akan membuat mereka bercampur. Contoh dari jenis crystallizer ini pada proses pembuatan kristal Calcium Chloride dengan refrigerant freon atau propane dan pembuatan kristal p-xylene dengan refrigerant propane.

 

5. Twinned Crystallizer

Jenis crystallizer ini sebenarnya berbentuk tangki yang didalamnya terdapat dua pengaduk yang dipisahkan oleh sekat atau baffle. Pada tiap pengaduk terdapat medium pemanas dimana yang salah satunya berkerja pada suhu saturasi, sedangkan satunya bekerja pada suhu supersaturasi atau lewat jenuh. Namun bila suhu operasi pada crystallizer ini sama pada kedua medium pemanas, umumnya akan didapatkan keseragaan ukuran. Tetapi waktu yang diperlukan akan lebih lama, walaupun terdapat dua pengaduk dalam satu tangki tersebut.

twinned c

Gambar 5. Twinned Crystallizer

Sesuai dengan namanya bahwa seolah-olah terdapat dua macam jenis crystallizer yang beroperasi pada suhu yang berbeda namun dalam satu tangki crystallizer (gambar 5). Terlihat bahwa umpan masuk dari sebelah kanan atas, karena adanya pergerakan pengaduk, cairan induk bersikulasi, disamping bersikulasi karena adanya sekat antara kedua pengaduk tersebut. Bila kita melihat jenis alirannya, sudah pasti cukup turbulen, sebab cairan bersikulasi cukup panjang didalam crystallizer tersebut. Semakin cepat gerakan pengaduk dan semakin tinggi perbedaan suhu yang ditukarkan, maka semakin cepat dan baik kristal yang didapatkan. Produk berupa kristal dapat diambil pada bagian bawah crystallizer, karena kristal akan jatuh atau mengendap dibawah adanya gaya gravitasi dan perbedaan massa jenis.

 

6. APV-Kestner Long Tube Vertical Evaporative Crystallizer

apv c

 Gambar 6. APV-Kestner Long Tube Vertical Evaporative Crystallizer

Umumnya crystallizer jenis ini digunakan untuk mendapatkan butiran-butiran atau kristal yang cukup kecil, biasanya kurang dari 0.5 mm. Prinsip kerjanya hampir sama dengan crystallizer yang lain, umpan masuk dengan forced flow dengan pompa lalu melewati sebuah evaporator yang didalamnya terdapat HE. Pada saat cairan induk berada pada keadaan supersaturasi atau lewat jenuh, maka akan terbentuk kristal-kristal halus, kristal tersebut ditampung pada salt box, cairan induk yang belum lewat jenuh dikeluarkan, sedangkan yang berupa kristal dikelurkan produk. Contohnya pada pembuatan kristal NaCl (garam), Na2SO4, Citric Acid.

 

 

7. Escher-Wyss Crystallizer

escher

  Gambar 7. Escher-Wyss Crystallizer

Crystallizer jenis ini menggunakan pengaduk yang piringannya berganda seperti paddle, turbin six blade atau yang lainnya. Karena pergerakan pengaduk yang cukup untuk menimbulkan keturbulensian antara aliran didalam draft tube dan annulus. Aliran akan mengalir kebawah melalui annulus, mengalir keatas melalui draft tube. Produk yang didapatkan berupa suspensi-suspensi yang berbentuk besar.


Chem employ Desember 2012


Chemploy
VIEW JOBSPOST REUMESPOST JOBSVIEW RESUMESJOB ALERTSSubscribeEmail to Friend
Featured Article:

Global CPRI flat in October; U.S. CPRI up slightly, ACC says

The Global Chemical Production Regional Index (Global CPRI) was flat in October, following 10 months of gains, according to data from the American Chemistry Council (ACC; Washington, D.C.; www.americanchemistry.com). READ MORE »

Fresh Jobs in the Chemical Process Industries

More Jobs | Post a Job

Search Resumes | Submit your Resume

 

Employers/Recruiters: Reach highly qualified candidates by posting your opening on the Chemploy Job Board.

For more information about our recruitment products please contact Diane Hammes at dhammes@che.com or 713-444-9939.

Job Seekers: Access the newest and freshest jobs available to chemical process industries professionals.

Related Offerings: Need a network of experts for your ChE dilemmas? Follow Chemical Engineering magazine on Twitterand LinkedIn .


DESIGN OF LONG TUBE VERTICAL EVAPORATOR BY RADIKS


baffle cut 25%

BAFFLE CUT 25%

baffle dimension

DIMENSION OF BAFFLE 75%

radiks's design of evaporator

LONG TUBE VERTICAL EVAPORATOR TAMPAK LUAR

radiks's design of evaporator detail

DETAIL OF LONG TUBE VERTICAL EVAPOARTOR


ADSORBER PART I


Untuk adsorbers yang umumnya digunakan pada penyerapan berupa campuran liquid atau gas. Dan juga adsorbent yang digunakan berbentuk butiran-butiran halus yang berpori, hal ini dimaksudkan untuk dapat memperluas biang kontak penyerapan adsorbant oleh adsorbent. Umumnya diindustri adsorbent nya berupa campuran, oeh karena itu tidak mudah dalam pengoperasian adsorber. Disamping itu pengelompokkan adsorbers didasarkan pada apakah terdapat recycle dari adsorbant atau tidak? Pada adsorber diperhitungan letak adsorbent nya, kecepatan masuk rekatan, kedaaan dari adsorbent.

VII.A. Tanpa Recycle Adsorbant

Adsorber jenis ini dapat digunakan pada keadaan yang batch dan continous. Diantaranya ;

  1. Fixed atau Packed Beds Vertical Adsorber

Adsorber jenis ini merupakan adsorber yang terdiri dari kolom penyerapan yang berada ditengah tangki adsorber. Dimana adsorbent dileakkan ditengah kolom, lalu jatuh secara gravitasi. Sedangkan dari batas pula masuk reaktan secara paralell (reaktan umumnya gas).

BEd vertica

         Gambar 1. Beds Vertical Adsorber

Dari gambar 1 diatas terlihat bahwa pada bagian bawah terdapat fluida untuk meneregerasi adsorbent yang digunakan. Hal ini dimaksudkan karena pada adsorber jenis ini semakin turun kebawah adsorbent akan menjadi jenuh, dimana penambahan reaktan untuk penyerapan lebih lanjut tidak akan sempurna. Oleh karena itu, untuk memaksimalkan penyerapan adsorbent, digunakan fluida untuk dapat meneregerasi adsorbent tersebut. Disebut beds karena terdapat papan untuk meletakkan granular adsorbent, karena pori-pori adsorbent berbeda-beda, maka untuk dapat terjadi adsorpsi yang baik, maka reaktan yang masuk harus benar-benar menempati pori yang sesuai dengan ukuran molekul dari rekatan. Beds granular adsorbents terletak diatas dan dibawah kolom adsorber, dibawah digunakan untuk membuang adsorbent jika adsorbent tersebut sudah tidak bisa diregenerasi lagi.

flat sGambar 2. Flat Screen Support (Atas Kolom Adsorber)

conical type

Gambar 3. Conical Type of Support Removal Adsorbent

Adsorber jenis ini umumnya memiliki tinggi sekitar 45 feet dan diameter sekitar 8-10 feet. Namun, kekurangan dari adsorber ini ialah adanya penurunan tekanan yang cukup tinggi atau pressure drop cukup tinggi. Hal ini tidak boleh terjadi karena dapat mengakibatkan reaktan dan fluida regenerasi tidak berkontak baik untuk proses adsorpsi ini.

  1. Fixed atau Packed Beds Horizontal Adsorber

Adsorber jenis ini tidak jauh berbeda dengan adsorber yang sebelumnya, hanya saja posisinya dalam horisontal, sehingga pressure drop dapat diminimumkan, karena umumnya bekerja pada tekanan atmosfer. Fluida regenerasi yang digunakan ialah steam. Reaktan berupa campuran uap-gas yang masuk dari ujung sisi kiri dikontakkan dengan beds adsorbent. Produk keluar pada ujung kanan pada kolom adsorber.

beds hori

    Gambar 4.Beds Horizontal Adsorber

Terlihat bahwa steam masuk pada bagian kiri kolom adsorber, melewati screen dan adsorbent untuk mengeringkan, lalu keluar bersama dengan gas atau uap yang tidak terserap atau tidak teradsorpsi. Dibagian atas kolom adsorber terdapat manhole atau lubang untuk operator adsorber masuk, umumnya operator masuk untuk memeriksa keadaan adsorber, mengangkat adsorbent karena sudah tidak dapat diregenerasi lagi, dan sebagainya. Untuk beds adorbent nya digunakan flat screen support.

Untuk jenis adsorber baik vertical adsorber maupun horizontal adsorber karena menggunakan sistem packed atau fix bed maka panjang dari bed yang berisi adsorbent akan sangat mempengaruhi proses adsorpsi, diamping itu pula kosentrasi reaktan mula-mula dan kapasitas dari adsorbent untuk menyerap adsorbant juga berpengaruh. Hubungan hal-hal tersebut diatas dapat digambarkan sebagai berikut ;

 

  1. Rotary Bed Adsorber

Beranjak dari kekurangan pada kolom adsorber dimana adsorbent bergerak secara searah dengan reaktan, yang akan mengakibatkan kesulitan dalam mengontrol kecepatan aliran dari jatuhnya adsorbent walaupun terdapat screen support adsorbent dan juga kecepatan masuk reaktan. Karena dua hal tersebut akan sangat mempengaruhi proses adsorpsi yang akan terjadi. Rotary bed adsorber merupakan solusinya, dimana kolom adsorber yang berbentuk bola akan berputar bersamaan dengan adsorbent.

rotary bed

Gambar 5. Rotary Bed Adsorber

Dari gambar terlihat bahwa fluida reaktan yang masuk berupa udara, adsorbent yang digunakan ialah karbon aktif. Dimana udara berputar karena adanya gaya centrifugal dari perputaran motor. Produk hail adsorpsi akan keluar berupa gas dan uap yang nantinya akan dikondensasikan sehingga diperoleh produk berupa cairan. Untuk regenerasi digunakan fluida steam yang masuk pada poros perputaran rotary bed. Sehingga dapat dikatakan bahwa adsorbent, adsorbant, dan steam berkontak pada satu tempat.

 


CRYSTALLIZER PART I


Kristalisasi

Kristalisasi merupakan proses pemisahan padat-cair dimana terjadi perpindahan massa dari solut (zat yang terlarut) menuju padatan dari fasa yang homogen atau dengan kata lain peristiwa pembentukan partikel-partikel zat padat dalam suatu fasa homogen.

Dalam kristalisasi dari larutan sebagaimana yang dilakukan oleh industri, campuran dua fasa cairan induk (mother liquor) dan kristal dari segala ukuran yang mengisi crystallizer, akan dikeluarkan sebagai hasil atau disebut dengan magma.

Tujuan dari kristalisasi yang utama ialah mendapatkan perolehan atau hasil yang memuaskan terutama kemurnian yang tinggi, oleh karena terdapat pertimbangan ;

1. Jika kristal yang dihasilkan akan diproses lebih lanjut, maka

ukuran yang wajar dan cukup seragam diperlukan untuk

kemudahan filtrasi, pencucian, pelaksanaan reaksi dengan bahan

kimia lain, pengangkutan, serta penyimpanan kristal

2. Jika kristal tersebut akn dipasarkan secara langsung, untuk dapat

diterima oleh konsumen, maka kristal tersebut harus kuat, tidak

mengumpal, ukurannya seragam, dan tidak melekat dalam

kemasan

Untuk mencapai tersebut, maka distribusi ukuran kristal (crystal size distiribusion) atau CSD, harus dikendalikan dengan benar dan itulah yang menjadi tujuan utama dalam perancangan dan operasi pada crystallizer.

Kristal yang baik, terbentuk dengan baik, umumnya hampir murni, namun masih mengandung cairan induk bila dikeluarkan dari magma akhir dan jika hasil tersebut masih mengandung agregat kristal, massa zat padat itu mungkin mengandung cairan induk bersama kristal.

 

Jenis-Jenis Crystallizer

Seperti yang sudah dijelaskan bahwa untuk mencapai tujuan dari kristalisasi tersebut diperlukan operasi crystallizer yang baik dan teknik perancangan crystallizer yang benar. Oleh karena itu, pada industri banyak digunakan bermacam-macam crystallizer untuk mencapai tujuan akhir, umumnya memiliki ukuran padatan yang seragam. Jenis-jenis crystallizer didasarkan pada prosesnya, apakah umpan segar bercampur dengan hasil proses kristalisasi (umpan bercampur dengan magma) atau tidak? Perbedaan operasi yang dilakukan pada crystallizer akan menghasilkan produk yang berbeda-beda.

 

A. Jenis Crystallizer dengan Circulating Magma

  1. Forced Circulating Liquid Evaporator Cyrstallizer

Cyrstallizer jenis ini menggabungkan proses antara proses pendinginan dan penguapan (evaporasi). Hal tersebut dimaksudkan untuk mencapai keadaan yang supersaturasi (supersaturated) atau keadaan dimana larutan lewat jenuh.

forced cir

                Gambar 1. Forced Circulating Liquid Evaporator

Pada gambar diatas terlihat bahwa umpan berupa larutan induk terlebih dahulu dilewatkan melalui sebuah Heat Exchangers untuk dipanaskan. Heat exchangers tersebut berada didalam evaporator. Didalam evaporator terjadi flash evaporation yaitu, terjadi pengurangan jumlah atau kandungan pelarut dan terjadi peningkatan kosentrasi zat terlarut. Dimana pada saat itu juga, keadaan zat terlarut sudah lewat jenuh atau supersaturasi. Larutan yang sudah berada pada keadaan lewat jenuh tersebut dialirkan menuju badan crystallizer untuk diperoleh padatan berupa kristal. Dimana pada badan crystallizer terdapat mekanisme kristalisasi yaitu nukleasi dan pertumbuhan kristal. Produk kristal dapat diambil sebagai hasil pada bagian bawah crystallizer, namun tidak semua proses berjalan sempurna atau dengan kata lain tidak semua cairan induk berubah menjadi padatan kristal. Karena itu ada proses pengembalian kembali hasil pipa sirkulasi (circulating pipe) atau  proses recycle hasil kristaliasi.

Terlihat bahwa umpan dan campuran umpan dengan hasil yang masih belum padatan, dialirkan dengan paksa atau forced circulation, serta adanya Heat Exchangers dapat membuat kenaikan titik didih yang sempurna. Kenaikan titik didih pada Heat Exchangers pada Evaporator untuk dapat membuat larutan menjadi lewat jenuh berkisar antara 3 – 100F untuk sekali lewat. Bila kenaikan titid didih yang diharapkan untuk mendapatkan kristal yang baik tidak sesuai, maka dapat digunakan beberapa evaporator untuk menaikan titik didih, dimana kosentrasi zat terlarut akan meningkat juga. Karena mengalir secara paksa menggunakan pompa, maka kecepatan aliran cukup tinggi, sehingga akan mengakibatkan ketinggian  permukaan larutan pada crystallizer tidak tetap atau naik turun. Umumnya crystallizer jenis ini dibangun dengan diameter 2 feet atau pada skala industri sekitar 4 feet atau lebih

  1. Draft Tube Baffle (DTB) Cyrstallizer

Pada crystallizer jenis ini, terdapat keunggulan dimana pada badan crytallizer terdapat pola atau sirkulasi untuk mekanisme kristalisasi. Diantaranya ialah draft tube, draft tube akan memisahkan antara cairan induk dengan kristal yang akan terbentuk, yang dilengakapi dengan pengaduk yang bergerak lambat. Pengaduk tersebut ada dimaksudkan untuk membuat cairan induk dapat bernukleasi dengan cepat, karena dengan pengadukan reaksi akan berjalan cepat.

draft tube

Terlihat pada gambar diatas bahwa umpan masuk melalui Heat Exchangers untuk proses pemanasan, karena terdapat pengaduk yang diletakkan pada poros badan atau tangki crystallizer maka cairan induk akan tertarik menuju daerah pengaduk yang menuju kearah atas, lalu bersikulasi turun kebawah bila hasilnya sudah berupa kristal. Namun bila tidak akan dikembalikan menuju Heat Exchangers kembali melalui pipa sirkulasi.  Karena masuk ke HE maka akan terjadi kenaikan titik didih sekitar 1- 20F. Terjadi pemisahan antara cairan induk dan kristal pada draft tube ialah karena adanya perbedaan massa jenis, dimana massa jenis kristal akan lebih besar dila dibandingkan dengan cairan induk, oleh karena itu adanya gaya gravitasi mengakibatkan kristal tersebut akan turun kebawah dan diambil sebagai produk. Produk kristal memiliki ukuran sekitar 6 – 20 mesh untuk padatan KCl, (NH4)2SO4, dan (NH4)H2PO4

  1. Draft Tube Crystallizer

Jenis Crystallizer ini tidak jauh berbeda dengan DTB Crystallizer, hanya saja pada jenis ini tidak ada baffle atau penyekat antara draft tube dengan badan crystallizer. Namun kelemahan dari Crystallizer  jenis ini kenaikan titik didih atau untuk dapat membuat larutan menjadi lewat jenuh agak sulit, karena jenis ini beroperasi dengan lambat dan panjang, namun akan didapatkan hasil atau magma yang cukup banyak.

  1. 2.      Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer

Crystallizer jenis ini menggunkan prinsip sirkulasi cairan atau larutan induk, dimana umpan maupun hasil kristaliasi akan masuk kedalam Sheell and Tube Heat Exchangers untuk didinginkan. Perbedaan dengan jenis crystallizer lainnya ialah karena pada saat dibadan crystallizer terbentuk campuran kristal dan cairan induk, maka akan terjadi tumbukan antara cairan dengan kristal sehingga suhu campuran akan meningkat, untuk mendinginkannya diperlukan medium pendingin. Crystallizer ini mneggunakan prinsip pendinginan, karena kristalisasi dapat terjadi melalui pembekuan (solidification).

baffle surface

Gambar 3. Forced Circulation Baffle Surface Cooled Crystallizer

Terlihat pada gambar diatas, umpan dan recylce kristalisasi bersama-sama masuk kedalam medium pendingin. Namun ada kelemahannya yaitu, panjang untuk pertukaran panas pada HE dan kecepatan umpan serta recycle kristalisasi sangat di perhitungkan, sebab jika terjadi kesalahan penurunan suhu untuk dapat melakukan kristalisasi pada proses pendinginan tidak berlangsung secara optimal.

Oleh karena itu, pompa untuk sirkuasi sangat dikontrol dengan baik, karena pompa itulah yang menciptakan laju alir disamping bukaan valve. Adanya pompa menyebabkan cairan induk akan mengalir secara turbulen baik didalam HE maupun didalam badan Crystalizer, maka akan terjadi sering tumbukan untuk menghasilkan kristal, dimana terdapat sekat antara saluran Head HE dengan ujung keluaran cairan induk. Bila kristal sudah terbentuk pada cairan induk yang sudah lewat jenuh, maka kristal akan turun karena adanya gaya gravitasi dan perbedaan massa jenis. Kristal dari Crystallizer jenis ini berukuran besar antara 30 – 100 mesh.

  1. 1.      OSLO Evaporative Crystallizer

Crystallizer ini dirancang berdasarkan adanya perbedaan suspensi yang mulai terbentuk pada chamber of suspension. Dimana terdapat HE eksternal yang bertujuan untuk membuat keadaan lewat jenuh pada suhu supersaturasinya.

oslo

Gambar 4. OSLO Evaporative Crystallizer

Terlihat pada gambar, bahwa umpan masuk pada G, karena dipompa umpan akan bergerak secara paksa, masuk kedalam evaporator yang terdapat HE, cairan umpan tersebut masuk kedalam B. Sebelum masuk ke B, pada bagian A cairan induk yang panas akan bercampur dengan panas penguapan pada bagian B. Laju penguapan tersebut harus dikontrol antara kerja pompa untuk mengalirkan cairan induk dengan perubahan panas campuran tersebut.

Pada bagian B terjadi proses pencampuran antara keadaan supersaturasi dengan kedaan penguapan, maka sering timbul scale atau kerak garam, sehingga akan mengganggu proses sirkulasi dari aliran tersebut. Sering kali diberikan bibit kristal pada bibit kristal untuk mempercepat pembentukan kristal-kristal yang kita harapkan.

  1. 1.      OSLO Surface Cooled Crystallizer

Tidak jauh berbeda dengan OSLO Evaporative Crystallizer, hanya saja cairan induk didinginkan terlebih dahulu sebelum masuk kedalam crystallizer. Lainnya sama dengan jenis crystallizer OSLO EC.

oslo cool

             Gambar 5. OSLO Surface Cooled Crystallizer

  1. 1.      Vacuum Pan Crystallizer

Jenis crystallizer ini banyak digunakan pada industri gula. Proses kristalisasi gula terjadi didalam suatu pan masak yang prosesnya kerjanya dilakukan pasa keadaan vakum (hampa udara). Disamping itu proses kristalisasi dapat dilakukan baik dengan single effect maupun multiple effect. Kondisi vakum dimaksudkan agar nira yang diperoleh tidak rusak. Nira yang digunakan ialah nira yang kental yang merupakan bahan baku proses kristalisasi. Dalam kristalisasi kadar kotoran dan air pada nira kental akan dihilangkan.

vaccum

  Gambar 6. Vacuum Pan Crystallizer

Pada nira kental masih terkandung kotoran sekitar 15-20% zat terlarut, sedangka kadar airnya sekitar 35-40% (dengan Brix 60-65). Sebelum dilakukan kristalisasi dalam pan masak, nira pekat terlebih dahulu dialirkan gas SO2 untuk proses bleaching dan untuk menurunkan viskositas masakan nira. Langkah pertama dari proses kristalisasi adalah menarik masakan (nira pekat) untuk diuapkan airnya sehingga mendekati kondisi jenuhnya. Dengan pemekatan secara terus-menerus koefisien kejenuhannya akan meningkat. Pada keadaan lewat jenuh maka akan terbentuk suatu pola kristal sukrosa. Setelah itu langkah membuat bibit yaitu dengan memasukkan bibit gula kedalam gula kedalam pan masak kemudian melakukan proses pembesaran kristal. Pada proses masak ini kondisi kristal harus dijaga jangan sampai larut kembali ataupun tidak beraturan.

 


QS World University Rankings by Subject 2011 Engineering & Technology – Chemical Engineering


 

A degree in chemical engineering often leads to a career in manufacturing and refining industries, where engineers are involved in the design and implementation of systems to mass produce materials or products.
The 2012 QS World University Ranking for Chemical Engineering lists the best universities in the world to study chemical engineering. See the full university subject rankings below to find out which universities have performed the best in chemical engineering this year.

Rank School AR ER CPP Score
1 Massachusetts Institute of Technology (MIT)
United States
5 Stars 100.0 84.9 82.2 90.1
2 University of Cambridge
United Kingdom
5 Stars 85.4 93.8 56.8 79.3
3 University of California, Berkeley (UCB)
United States
0 Stars 87.9 64.4 77.5 77.7
4 University of Oxford
United Kingdom
5 Stars 71.5 94.1 60.3 74.9
5 Stanford University
United States
5 Stars 73.3 73.9 75.1 74.0
6 University of California, Los Angeles (UCLA)
United States
0 Stars 55.1 63.7 83.1 66.1
7 California Institute of Technology (Caltech)
United States
5 Stars 72.6 43.8 67.8 62.5
8 Imperial College London
United Kingdom
0 Stars 69.9 65.7 47.8 62.0
9 Yale University
United States
5 Stars 48.9 62.0 77.3 61.4
10 National University of Singapore (NUS)
Singapore
0 Stars 51.5 57.4 68.2 58.3
11 ETH Zurich (Swiss Federal Institute of Technology)
Switzerland
0 Stars 57.3 49.9 66.2 57.8
12 The University of Melbourne
Australia
0 Stars 54.1 68.1 49.0 56.8
13 Princeton University
United States
5 Stars 55.0 40.6 70.2 55.2
14 University of Toronto
Canada
0 Stars 56.8 45.5 60.6 54.6
15 McGill University
Canada
0 Stars 54.8 59.4 46.3 53.6
16 University of Pennsylvania
United States
5 Stars 31.2 55.0 81.2 53.3
17 University of Michigan
United States
5 Stars 43.8 57.0 62.0 53.2
18 The University of Manchester
United Kingdom
0 Stars 52.5 56.8 47.6 52.3
19= University of Texas at Austin
United States
0 Stars 44.8 43.8 66.6 51.0
19= Cornell University
United States
5 Stars 46.8 49.8 57.9 51.0
21 The University of Tokyo
Japan
0 Stars 59.5 44.6 44.9 50.7
22 Delft University of Technology
Netherlands
0 Stars 53.4 41.4 50.1 48.8
23 Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne
Switzerland
0 Stars 40.4 42.3 64.9 48.3
24 Columbia University
United States
5 Stars 32.0 55.3 62.2 48.1
25 Georgia Institute of Technology
United States
0 Stars 40.0 43.5 63.0 48.0

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 138 pengikut lainnya.